Showing posts with label solo. Show all posts
Showing posts with label solo. Show all posts

Wednesday, 19 November 2014

BESTIK LIDAH YANG BIKIN GOYANG LIDAH

Rinai hujan baru saja membasahi jalanan kota Solo, Sabtu (18/3) petang. Rasanya itu tidak menghalangi niat mencari tempat yang menyajikan masakan olahan lidah sapi kegemaran kami. Tempat itu kami temukan di Jalan Dokter Rajiman.
Harjo Bestik. Tulisan berwarna merah pada spanduk putih di bagian depan warung kaki lima itu sepintas biasa saja, tidak ada yang istimewa. Bagi sebagian besar penggemar steak, warung ini mungkin tak ubahnya warung steak kaki lima yang menjamur di kota-kota besar.
Namun, sekali menyimak daftar menu yang ditawarkan Harjo Bestik, niscaya kita akan tercengang. Aneka menu bestik seperti bestik telon yang terdiri dari tiga jenis daging sesuai pilihan pembeli, bestik uritan (calon telur ayam), bestik brutu, dan bestik dadar lidah adalah sejumlah menu bestik yang ditawarkan. Sungguh tawaran yang tidak biasa.
Malam itu kami memesan masing-masing seporsi bestik campur dan bestik dadar lidah, serta dua piring nasi putih. Begitulah adat di warung makan kaki lima ini, makan bestik ditemani nasi putih. Tidak lupa segelas es jeruk dan wedang cokelat turut dipesan.
Lebih kurang 30 menit pesanan kami tiba. Kepulan asap menebar harum aroma kuah bestik yang segera merangsang pencernaan kami. Sekali menyendok bestik ini rasanya sukar berhenti karena keempukan daging maupun lidah sapi yang berpadu dengan kesegaran kuah bestiknya.
"Sejak dahulu, kakek saya, Mbah Harjo, pendiri warung ini, sudah memasak bestik seperti ini. Bestik dengan kuah banyak atau nyemek dalam istilah orang Jawa," ujar Mujiyati (40), generasi ketiga Harjo Bestik, saat ditemui Sabtu malam itu.
Bukan hanya kecakapan Mbah Harjo yang membuat bestik ini lekat dengan lidah orang Jawa, tetapi juga keahlian Mbah Harjo dalam mengkreasikan aneka organ tubuh ayam maupun sapi untuk diolah dalam kuah bestiknya.
"Elek-elekan"
Satu porsi bestik lidah terdiri atas lima potongan lidah sapi bersanding dengan irisan kentang, wortel, selada hijau, tomat, acar timun, dan mayones atau moster. Kuah kecoklatan yang meredam lidah dan aneka sayuran itu diolah dari tumisan mentega, bawang merah, bawang bombai, ditambah kuah kaldu ayam, kecap manis dan asin, garam, serta merica.
Untuk bestik campur, penyajiannya hampir serupa denganbestik lidah hanya ditambah daging sapi cacah. Sementara untuk bestik dadar lidah, pembeli dapat menikmati potongan lidah sapi yang terbungkus dalam telur dadar goreng terendam dalam kuah bestik.
Keempukan lidah sapi di Harjo Bestik tidak terlepas dari lamanya waktu pemasakan lidah. Mujiyati senantiasa merebus lidah sapi selama empat jam agar empuk. Saat akan dimasak sebagai bestik, lidah itu kemudian dipotong-potong kecil dan dicampur dengan tumisan bumbu kuah bestik.
"Menu favorit pengunjung adalah bestik lidah. Akan tetapi, kami juga masih memiliki menu favorit lain seperti risoles kuah, elek- elekan, dan bakmi," ujar Mujiyati.
Mendengar menu elek-elekan (bahasa Jawa dari kata jelek-jelekan), kening kami sempat berkerut. Rasa-rasanya dari sekian menu yang tercantum dalam daftar menu Harjo Bestik, nama ini tidak kami temui. Setelah kami tanyakan menu ini kepada Mujiyati, sontak kami langsung tertawa mendengar penjelasannya.
Menurut Mujiyati, elek-elekan adalah menu yang diciptakan dari bonggol lidah sapi yang tidak terpakai di bestik. Awalnya, bonggol- bonggol lidah sapi itu digoreng Mujiyati untuk disantapnya sendiri bersama sambal kecap atau sambal bawang ditemani nasi putih.
Ia tidak pernah menawari menu ini secara terang-terangan karena dinilai kurang layak disandingkan dengan menu bestik di warungnya. Suatu ketika, seorang pelanggan melihat gorengan bonggol lidah sapi itu dan tertarik mencoba.
"Sejak saat itu, jika pelanggan itu datang, ia tak lupa memesan elek-elekan lengkap dengan sambal kecapnya. Lama kelamaan pelanggan yang lain tahu tentang elek-elekan dan turut memesan," tuturnya.
Meski elek-elekan sudah punya banyak penggemar, Mujiyati tetap tidak mau mencantumkan menu itu dalam daftar menu Harjo Bestik. Baginya, promosi elek-elekan cukup dari mulut ke mulut saja.
Bercampur harum bunga
Menyantap bestik di warung kaki lima di Jalan Dokter Rajiman dan dekat dengan Pasar Kembang ini terasa istimewa. Kuah bestik jowo sesekali berpadu dengan harum bunga yang dijual di Pasar Kembang. Suasana jalanan dan wajah kota Solo yang tak pernah tidur juga bisa dinikmati di warung yang telah berusia lebih kurang 60 tahun ini, yang menurut Mujiyati dimulai Mbah Harjo sejak menjelang perang kemerdekaan Indonesia.
Untuk menikmati aneka bestik jawa khas Solo ini cukup membayar Rp 9.000-Rp 13.000 per porsi. Warung bestik kaki lima ini buka setiap hari dari pukul 18.00 hingga 00.30. Selain bestik, juga ditawarkan menu lain seperti bakmi, kamar bola, nasi goreng krukup, dan banyak menu lain.
Warung ini dikunjungi orang dari berbagai lapisan. Mereka menikmati santapan menu bestik favoritnya di atas bangku kayu panjang sambil menikmati suasana malam kota Solo.
Tidak terasa, jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 21.30. Dengan berat hati, tetapi perut kenyang, kami meninggalkan Harjo Bestik beserta segala suasana kekhasan warung kaki limanya. Tentu saja, sebagai penggemar lidah sapi, terbit rasa mengganjal di hati kami karena belum mencicipi elek-elekan. Suatu waktu kami pasti kembali....

Tulisanku dan Komang Arianti seperti termuat di Kompas, 2 April 2006

INDRAWATI DAN KREASI PERCA BATIK


Perca batik adalah limbah. Namun, di tangan Indarwati (34) limbah itu menjadi produk bernilai ekonomi dan mengandung kreativitas tinggi. Indarwati memproduksi sandal, dompet tangan, tas, pembungkus laptop, dan dasi dari perca kain batik. Berhiaskan manik-manik, kain yang semula teronggok di sudut rumah menjelma sebagai produk yang dijajakan di hotel hingga ke luar negeri.
Indarwati mulai menggeluti usaha itu tahun 1999 setelah sebelumnya membantu usaha sang ayah, Abdul Gani, yang membuat sandal batik sejak penghujung tahun 1989. Semula, Abdul Gani membuat sandal dan selop dari kulit sintetis pada tahun 1970-an. Atas permintaan pelanggan, Abdul Gani dibantu Indarwati mulai membuat sandal yang dibungkus kain perca batik. Usaha itu lebih prospektif dibanding usaha sebelumnya yang berbahan baku kulit sintetis.
"Produk sandal batik ini peka zaman, selalu punya pasar," kata Indarwati yang tengah hamil anak kedua, di rumahnya di Kampung Joyodi-ningratan, Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, April lalu.
Indarwati yang semula membantu sang ayah memutuskan terjun total ke dunia produk dari perca batik. Dia membuat dompet, tas, dasi, dan tas pembungkus laptop dari perca batik. Dia memulai usaha itu tahun 1999 setelah memiliki anak pertama. Sebelumnya, dia pernah menjajal posisi tenaga pemasaran sebuah pabrik karung plastik selama tiga tahun.
Selain memberi penghasilan lebih besar, bekerja di rumah membuatnya tetap dapat mengasuh sang buah hati yang kini berusia 10 tahun. Indarwati dan ayahnya kini bermitra dengan 12 orang yang mengerjakan produknya dari rumah masing-masing.
Setiap bulan, Indarwati dan ayahnya menghasilkan 3.000-5.000 sandal dan 300-500 dompet. Pemasaran produk di Pasar Klewer oleh sang ibu, Supini. Sebagian besar produk mereka pesanan pelanggan, antara lain hotel di Lembang, Jawa Barat.
Produk sandalnya juga pernah menjadi suvenir untuk peserta Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia dan Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Solo. Sandal batik itu kemudian diekspor ke beberapa negara oleh pembelinya.
Harga sandal tersebut Rp 7.500-Rp 12.500 per buah bergantung tingkat kerumitan model. Harga dompet Rp 4.000-Rp 40.000 per buah. Sementara harga dasi Rp 35.000 per buah.
Bahan untuk dompet dan dasi adalah kain batik tulis sutra ATBM (alat tenun bukan mesin), sedangkan sandal dan lainnya dari kain batik nontulis.
Seorang pengepul perca batik rutin menyetor bahan baku kepada Indarwati yang membelinya seharga Rp 10.000 per kilogram. Sementara harga kain perca batik tulis sutra ATBM Rp 40.000 per kilogram. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 12 Mei 2009

HERU PEMBUAT MAINAN ANAK RAMAH LINGKUNGAN


Herumanto Moektijono (44) tidak pernah menduga jalan hidup akan membawanya seperti sekarang ini, menekuni dunia mainan anak-anak. Herumanto, yang akrab dipanggil Heru, awalnya membuka usaha desain interior. Kliennya banyak meminta desain interior untuk kamar anak. Dari sini ia melihat, bidang ini belum banyak digarap dengan serius.
"Padahal, anak-anak peka keindahan. Namun kerap anak-anak hanya diberi penataan yang asal-asalan," kata Herumanto di bengkel kerjanya di Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Senin (18/5).
Pada tahun 2007 ia memberanikan diri mengikuti pameran di Malioboro Mall, Yogyakarta, dengan mebel dan mainan anak-anak produksinya. Animo yang besar, terutama pada mainan, membuatnya memutuskan menggeluti dunia mainan anak lebih serius.
Produknya yang halus dan inovatif membuat pasar merespons positif. Kini tak kurang dari ratusan jenis mainan anak-anak diproduksinya. Produksinya dibagi menjadi tiga macam, furnitur, aksesori ruangan, dan mainan anak, seperti meja, kursi, teka-teki (puzzle), baju mainan, dan menara kotak lingkar. Tiap bulan ia mengeluarkan dua-lima desain baru.
Tahun 2008, saat penyelenggaraan Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia, Heru terinspirasi untuk mengangkat warisan budaya lokal dalam mainan anak karyanya. Jadilah motif batik, keris, dan wayang menjadi tema mainan karyanya, seperti dalam puzzle. Heru mengutamakan orisinalitas dalam karyanya.
"Tidak ada karakter luar negeri, seperti Disney dalam mainan saya. Bukan tidak baik tetapi saya lebih suka mengajak anak mengenali alam dan budaya lokal, misalnya dengan bentuk kepik, capung atau rajamala," kata Heru, yang juga hobi fotografi.
Keasyikan
Lama-lama Heru menemukan keasyikan dalam dunia ini dan kini justru lebih berfokus pada produksi mainan anak-anak meski tidak meninggalkan desain interior. Furnitur hanya dibuat jika ada pesanan.
"Kalau mau cari uang, desain interior memberi materi lebih besar. Namun dari segi kepuasan, saya lebih senang membuat mainan anak-anak karena menantang kreativitas dan bebas berkreasi. Dalam desain interior saya mengikuti kemauan klien," kata Heru.
Kualitas mainan anaknya selain halus dan rapi juga menggunakan cat tak beracun (nontoxic) agar tidak membahayakan anak. Kini Heru tengah meneliti penggunaan batok kelapa, rotan, dan daun-daunan sebagai bahan baku mainan untuk melengkapi karyanya yang selama ini dibuat dari kayu lapis jenis medium density fiberglass.
Mainan karya Heru dibandrol harga Rp 9.000-Rp 150.000, sedangkan furniturnya satu set mencapai Rp 5 juta. Produknya bisa ditemui di Solo Square dan Solo Grand Mall dengan label Cil-Cil, selain di websitenya di www.cil-cil.com. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 2 Juni 2009.

EDI SI KREATOR WAYANG BATIK


Terinspirasi oleh Solo Batik Carnival atau SBC tahun 2008, Ami Joyo Warso Edi menciptakan wayang batik carnival. Wayang ini seperti wayang golek, tetapi menggunakan kostum seperti yang digunakan peserta SBC, khas kostum karnaval yang terkesan megah.
Padahal Edi, panggilan akrabnya, hanya memanfaatkan perca batik. Dibungkus kreativitas dan keuletan yang tinggi, jadilah produk wayang yang tak kalah megah seperti halnya penampilan peserta karnaval.
Edi sebenarnya bergerak di bidang jasa konstruksi yang lantas mengembangkan usaha furnitur antik. Persentuhannya dengan barang-barang antik mengasah naluri seninya. Dibantu beberapa asisten, Edi menyalurkan ide dan kreativitasnya dalam menciptakan wayang batik carnival.
"Dua minggu sebelum SBC tahun 2008, saya membuat wayang batik carnival. Bermodal foto-foto di media tentang ekspos rencana SBC, jadilah tiga buah wayang," kata Edi saat dijumpai di rumahnya di Jalan Lesanpuro, Jamsaren, Solo, beberapa waktu lalu.
Tiga karyanya yang dipamerkan di ajang Srawung Batik yang digelar bersamaan dengan perhelatan SBC 2008 mendapat apresiasi positif, baik dari panitia maupun Wali Kota Solo Joko Widodo. Edi pun semakin mantap berkarya. Pernah dia memajang foto sebuah karyanya di situs internet seorang teman. Seorang pembaca dari Eropa menyatakan minatnya memesan 60.000 buah wayang karnaval tersebut.
"Dia pikir itu produk massal seperti boneka Barbie. Saya sendiri tidak mampu memenuhi pesanan itu karena ini produk kerajinan tangan, bukan mesin, sehingga sulit untuk mengejar jumlah banyak dalam waktu singkat," kata Edi.
Kini, secara rutin Edi mengenalkan produknya di Night Market Ngarsapura yang buka setiap malam Minggu di depan kompleks Pura Mangkunegaran, Solo. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pernah membeli sebuah wayang batik carnivalnya yang menggunakan kostum batik bernuansa putih. "Sejak itu, banyak orang minta dibuatkan wayang serupa," kata ayah tiga anak ini sambil tertawa.
Beberapa tamu resmi Kota Solo dari berbagai negara yang diajak wali kota mengunjungi Night Market Ngarsapura juga memboyong karya Edi ke negara masing-masing.
Total, Edi telah membuat 30 karya wayang batik carnival yang dibuat dari bahan baku kayu sengon laut, pule, atau trebelo puso. Saat ini dia tengah mencoba membuat figur aksi (action figure) dari bahan akrilik dengan kostum batik carnival atau tokoh pewayangan. Mimpinya adalah anak-anak Indonesia punya action figure-nya sendiri, tidak hanya tokoh Naruto atau tokoh komik Marvel dari luar negeri.
Edi telah membuat action figure tokoh punakawan, gatot kaca, arjuna, dan werkudara. Dia juga membuat kaus bergambar wayang batik carnival. Ide seakan berdesakan keluar dari kepalanya. Ke depan, bukan hanya batik, tetapi juga kain-kain tradisional yang ingin dikenakannya di wayang dan action figure kreasinya. Namun, satu idealisme tetap Edi pegang, yakni menggunakan bahan daur ulang. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 7 Juli 2009

SEPATU DRUMBAND PAK DOLIT


Membuat sepatu adalah keahlian satu-satunya Dolit Widodo (55). Keterampilan ini diwarisi dari sang ayah, mendiang Harjo "Londo" yang pembuat sepatu dan penyanyi keroncong. Berbeda dengan ayahnya, Dolit memilih fokus pada pembuatan sepatu yang dipakai pemain dan mayoret drumband/marching band.
Kini, sebanyak 75 persen sepatu produksinya yang diberi nama "Dolita" merupakan sepatu drumband jenis boot. Sisanya, sepatu pesanan pelanggan untuk keperluan harian atau pesta.
Awalnya, Dolit hanya bantu ayahnya, namun sejak tahun 1982, dia memilih mandiri. Usahanya bergerak maju karena tidak banyak pesaing. Baru sejak lima tahun lalu, bermunculan perajin baru dengan spesialisasi sepatu drumband. Kini ada 10 perajin sepatu drumband di Kota Solo. Jika musim lomba drumband, jumlah perajin lebih banyak lagi karena muncul perajin musiman.
"Selama masih ada kelompok drumband dan lomba drumband, kami masih dapat bertahan," kata Dolit, Senin (29/3).
Kebanyakan konsumennya adalah siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Jarang siswa SMP dan SMA yang menggeluti kegiatan drumband saat ini. Selain sepatu, Dolit juga melayani pembuatan kostum drumband yang dimulai sejak 2 tahun lalu. Sang istri, Endang Sunarmi, yang menangani pesanan kostum. Ini dikerjakan penjahit yang merupakan tetangganya sendiri.
"Banyak pelanggan inginnya pesan sepatu sekaligus pesan kostum di satu tempat," kata ayah tujuh anak ini saat ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat produksi sepatu di Kampung Sangkrah, Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Kota Solo.
Dolit dibantu 2-3 pekerja. Di musim kompetisi drumband, pekerjanya bisa menjadi lima orang. Harga satu paket, terdiri atas sepatu, kostum, dan topi drumband kualitas sedang Rp 125.000, untuk kualitas terbaik mencapai Rp 450.000. Sedangkan sepatu pesanan dimulai dari harga Rp 60.000 per pasang bergantung pada bahan dan tingkat kerumitan pembuatan. Ia mengeluhkan harga bahan baku yang terus meningkat.
Selain di Solo, sepatu Dolit juga dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, dan Sulawesi. Hingga kini, Dolit mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah atau perbankan. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 30 Maret 2010 

DARI PRALINE HINGGA LOLIPOP ALA YUSAK YANI


Cokelat telah dikenal sejak masa Indian Maya. Biji kakao sangat berharga sehingga dijadikan alat tukar seperti halnya uang. Pada masa Indian suku Aztec, minuman cokelat panas diminum dengan gelas-gelas yang terbuat dari emas. Indonesia kini menjadi penghasil kakao ketiga terbesar di dunia. Meski demikian, hasil olahan cokelat lebih dikenal berasal dari Swiss.
Berangkat dari keprihatinan inilah, Yusak Yani (45) mulai berkreasi membuat produk cokelat dengan sentuhan dekorasi seperti yang dilakukan dalam pembuatan kue pengantin. Jadilah, produk permen cokelat aneka bentuk dan warna, praline (kepingan cokelat), dan lainnya.
Ayah dua anak ini pernah mencicipi kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Karena kesulitan biaya, kuliahnya terputus. Ia pun banting setir dengan bekerja di perusahaan bakery dengan keahlian membuat pastry, lalu dipercaya membuat kue pengantin dan ulang tahun. Yusak sempat berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan bakery lainnya di Kota Semarang dan Kota Solo.
Keterampilannya menghias kue diperoleh, kemudian diaplikasikan ke cokelat. Pada suatu saat, dia terpikir membuat cokelat yang dihias seperti halnya menghias kue pengantin. Saat itu, di Solo belum ada produk olahan makanan seperti yang digagas Yusak.
"Saat itu bertepatan dengan krisis ekonomi tahun 1998. Anak kedua saya lahir, gaji saya saat itu meski tergolong tinggi, Rp 3 juta per bulan, namun mulai terasa tidak cukup karena krisis," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Awalnya, ia membuat ampyang cokelat yang dititipkan di toko oleh-oleh. Kreasinya kemudian ia lengkapi dengan permen cokelat. Agar tidak membosankan, permennya dihias aneka warna, dan mengambil bentuk-bentuk tokoh kartun.
Produk cokelat yang diberi merek Floren dab Temy yang dititipkan di toko roti, supermarket, dan swalayan, digemari konsumen. Saat valentine misalnya, produk permen atau praline cokelatnya berbentuk hati atau kata-kata puitis, habis diserbu pembeli.
Karyanya kini banyak ditiru pihak lain. Agar tetap bertahan, Yusak terus berkreasi. Terakhir, ia memunculkan cokelat dengan warna yang bergradasi. Banyak teknik seni rupa yang ia terapkan dalam menghias cokelatnya. Kini, dalam sehari dia bisa menghabiskan 40-60 kilogram cokelat.
"Dulu awalnya, banyak orang sinis kepada saya, kok membuat cokelat seperti ini. Setelah produk saya terbukti digemari, banyak yang ikut membuat," ujarnya.
Ke depan, Yusak berobsesi memiliki semacam sekolah yang mengajarkan teknik membuat aneka produk dari cokelat. Ia bermimpi, Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar ketiga dunia, juga dikenal sebagai penghasil produk cokelat seperti Swiss. 

Tulisanku seperti termuat di 1 Juni 2010

Wayang Orang Sriwedari, Nasibmu Kini


Harsini (38) membersihkan goresan pensil alis yang membentuk taring di bawah sudut kiri dan kanan bibir bawahnya. Dengan handuk kecil yang diberi cairan pembersih wajah, Harsini membersihkan seluruh wajah-nya.
Maka hilanglah riasan untuk mempertegas karakter Mbok Emban Kidan Ganti yang baru saja dimainkannya di atas panggung, Rabu (13/10) malam, di Gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo.
Begitulah aktivitas para pemain wayang orang. Setelah tampil gemerlap di atas panggung di balik kostum yang menawan, kembali menjalani realita kehidupan setelah turun panggung.
"Kalau saya, pagi jadi ibu rumah tangga, malam main wayang orang," tutur Iyeng, pemain wayang orang lainnya.
Di tengah kehidupan seni tradisi yang semakin surut seiring perkembangan zaman, pemain wayang orang ini tetap bertahan.
Setiap malam mereka tetap tampil di atas panggung, memainkan lakon untuk menghibur penonton yang jumlahnya kadang bisa dihitung dengan jari. Itu pun kebanyakan penontonnya sudah berusia lanjut.
Harsini menuturkan mulai bermain wayang orang sejak usia 16 tahun, saat dirinya belum lulus sekolah menengah atas. Keterlibatannya dengan wayang orang dipengaruhi keluarga. Ayahnya, Suwardi, seorang pengrawit, dan ibunya, Sartinah, pemain wayang orang yang kemudian menjadi penata rias panggung. Sementara kakeknya, Mbah Sujud, pemain sekaligus sutradara wayang orang juga di Sriwedari. "Yang saya sukai dari bermain wayang orang adalah bisa memainkan berbagai karakter," kata Harsini.
Kini dengan bobot tubuhnya yang mencapai 80 kilogram, Harsini mengaku lebih sering kebagian peran sebagai Mbok Emban. "Saat masih langsing, 49 kilogram, saya bisa bermain bermacam-macam peran," kata Harsini.
Begitu juga dengan Iyeng. Awalnya ia hanya tahu wayang orang melalui tugas sekolah dan kuliahnya di Sekolah Menengah Kariwitan Indonesia Solo (sekarang SMKN 8 Solo) dan Institut Seni Indonesia Surakarta karena ia mengambil jurusan tari. Setelah melamar dan ditempatkan sebagai pemain wayang orang, Iyeng mulai membiasakan diri.
"Dahulu main wayang orang hanya kalau ada tugas sekolah. Itu pun baca naskah. Tiba-tiba harus main wayang orang tiap hari, harus dandan sendiri. Awalnya demam panggung, tapi sekarang sudah biasa. Dandan juga 10 menit rampung," papar Iyeng.
Beruntung Harsini dan Iyeng telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga bisa berkonsentrasi bermain wayang orang dan tidak perlu memikirkan pemasukan dari penjualan tiket.
Tak hanya Harsini dan Iyeng, saat ini hampir semua kru WO Sriwedari yang jumlahnya sekitar 85 orang berstatus PNS. Menurut pimpinan WO Sriwedari, Diwasa, yang belum PNS tinggal 11-13 orang karena kendala batas usia diangkat PNS.
Meskipun demikian, menurut Harsini, orang-orang ini tetap bertahan bermain di WO Sriwedari, walaupun gaji diperoleh jauh berbeda dengan kru lainnya yang berstatus kepegawaian.
Seluruh kru bahu-membahu menghidupi dan hidup bersama pasang surut WO Sriwedari, mempertahankan wayang orang.
Menurut Diwasa, wayang orang atau wayang wong mulai muncul di Solo tahun 1898 dan berkembang di Prang Wedanan, Pura Mangkunegaran. Saat Paku Buwono X menggelar hajatan, pentas wayang orang dipersembahkan Pura Mangkunegaran.
Sejak tahun 1910, pentas wayang orang oleh Paku Buwono X ditempatkan di Kebon Rojo yang kini dikenal sebagai seni yang diperuntukkan bagi rakyat. Tempat ini kemudian dikenal dengan WO Sriwedari, yang tahun ini memasuki usia satu abad. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas 16 Oktober 2010

Thursday, 13 November 2014

Gibran Rakabuming Raka, Tukang Katering yang Anak Presiden




Punya kesempatan untuk memanfaatkan sosok sang ayah, namun tidak dilakukan Gibran Rakabuming (25). Ia memilih mengajukan proposal pinjaman modal usaha ke bank tanpa menyebut-nyebut nama ayahnya. Setelah memulai usaha ia juga menolak pesanan yang datang dari jajaran birokrasi yang dipimpin sang ayah yang saat itu menjabat sebagai wali kota Solo.
Anak sulung Joko Widodo atau Jokowi yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta ini lebih suka membangun bisnisnya dari nol dengan tangannya sendiri. Tawaran untuk melanjutkan bisnis ayahnya di bidang ekspor mebel ini ditolaknya karena lebih memilih membangun mimpinya sendiri.  Katering menjadi pilihannya setelah melihat peluang besar di bidang ini. “Keluarga saya punya gedung pertemuan namun selama ini tidak ada kateringnya. Ini kesalahan besar karena pendapatan terbesar justru dari katering yang mencapai 50-60 persen dari biaya sebuah acara,” tukas Gibran beberapa waktu lalu.
Tiga bulan setelah lulus kuliah di tahun 2010, ia pun memulai bisnisnya sendiri dengan bendera Chilli Pari Catering. Gibran mencari sendiri modal dengan berbekal pinjaman dari bank. Dari lima bank yang ia ajukan proposal hanya satu yang memberi pinjaman, itupun tidak sampai separuh dari yang ia ajukan. Maklum, saat itu Gibran baru akan terjun ke  dunia bisnis. Ia pun tidak aji mumpung meminjam nama sang ayah yang saat itu menjadi orang nomor satu di Kota Solo hanya demi meloloskan proposal. Dana pinjaman yang diperoleh lantas ia manfaatkan untuk membangun kantor yang representatif untuk membangun kepercayaan calon konsumen.
“Katering itu bisnis kepercayaan. Kalau ada restoran baru, orang ramai-ramai datang untuk mencoba makanannya. Sebaliknya dengan katering, orang lebih pilih pemain lama yang sudah diketahui makanan dan pelayanannya,” kata Gibran.
Di kantor untuk menerima tamu, ia sediakan pojok icip-icip. Calon konsumen bisa mencoba rasa masakan kateringnya dan mendiskusikan apakah sudah sesuai keinginan atau masih perlu penyesuaian. Saat pesanan pertama diterima, dapur yang terletak di belakang kantor belum sempurna terbangun. Ia pun belum punya banyak peralatan memasak dan pecah belah, seperti piring sehingga harus menyewa.
Setahun pertama, Gibran belum mendapatkan banyak pesanan akibat sulitnya menembus dominasi pemain-pemain lama di bidang katering yang sudah punya nama. Ia pun putar otak untuk mendongkrak kateringnya. Caranya, Gibran mulai menjual paket resepsi pernikahan lengkap, tidak hanya katering melainkan juga dekorasi, mobil pengantin, undangan, suvenir, hinggamaster of ceremony. Konsep one stop service ini agar konsumen tidak perlu repot mengurus sendiri persiapan resepsinya, hanya perlu datang ke satu tempat dan semua akan diurus oleh timnya. Untuk beberapa pekerjaan, Gibran bekerja sama dengan rekan yang dipercayanya.
Di Kota Solo, Jawa Tengah, jumlah penyelenggara paket pernikahan belum terlalu banyak, tidak seperti katering yang mencapai ratusan usaha. Gibran merasa mampu bersaing dalam soal pelayanan yang profesional dan detil. Ia akan melayani apapun keinginan konsumen, misalnya menu makanan hingga warna taplak demi kepuasan pelanggan. Ia pernah mengganti seragam para pramusajinya untuk menuruti keinginan konsumen. Tempat penyelenggaraannya pun tidak mesti di gedung pertemuan miliknya, tetapi bisa di gedung lain, di rumah, hingga tempat di luar kota. Gibran pernah menyulap lapangan tenis dan tribunnya menjadi tempat resepsi pernikahan di sebuah kota kecil.
Lulusan sarjana dari Jurusan Marketing, Management Development  Institute of Singapore ini juga memberi layanan lebih berupa konsultasi gratis, misalnya penyusunan acara. Para pegawainya juga ditekankan untuk mendampingi calon pengantin dan keluarganya dalam setiap tahap persiapan, misalnya menghadiri rapat keluarga atau siraman. Mereka juga diminta datang saat resepsi untuk memberi selamat dan menyalami  pengantin dan keluarganya. Gibran pun turun sendiri ke tempat resepsi untuk melihat langsung pelayanan yang diberikan para pegawainya.
Dari sini, ia bisa meningkatkan usaha kateringnya. Lama-kelamaan orang mengetahui makanan dan pelayanan yang diberikan serta menularkannya dari mulut ke mulut. Pesanan kateringnya meningkat 3-4 kali lipat setelah ia menjual paket pernikahan. Paket ini ia tawarkan mulai harga Rp 56 juta untuk 1.000 tamu. Selain pernikahan, ia juga melayani acara lainnya, seperti wisuda, halal bihalal, hingga jamuan makan.
Setelah Jokowi tidak lagi menjabat sebagai wali kota, Gibran baru berani menerima pesanan dari Pemerintah Kota Solo. Sebelumnya ia sengaja tidak mencari pesanan atau menolak pesanan yang masuk dari Pemkot Solo untuk menghindari konflik kepentingan dan kesan negatif di masyarakat. Selain karena pesan sang ayah, Gibran pun dengan kesadaran hati melakukannya. Ia tidak ingin orang menilai usahanya maju karena fasilitas dari ayahnya.
“Rejeki sudah ada yang mengatur, tidak perlu pakai cara-cara seperti itu. Godaan untuk  laris atau cepat kaya pasti ada, tetapi untuk apa kaya dengan cara seperti itu, uangnya tidak akan tahan lama. Kalau kita bekerja halal pasti akan ada jalan,” tegas Gibran yang sejak setahun terakhir dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia Kota Solo.
Hampir setiap Sabtu-Minggu, gedung Graha Saba Buana yang dikelola Gibran menyelenggarakan resepsi pernikahan. Sehari bisa 2-3 kali bahkan lebih. Belum lagi resepsi di tempat lain yang juga ia tangani. Di hari lain, gedung ini digunakan untuk wisuda atau pertemuan lainnya. Sebanyak 80 persen katering di gedung ini dilayani oleh Chili Pari. Untuk meningkatkan pendapatan, Gibran berusaha mengedukasi pasar untuk menerapkan pola buffet atau prasmanan saat resepsi. Tradisi yang selama ini berlangsung, penyajian makanan dilakukan dengan diantarkan satu per satu kepada tamu, mulai dari minuman, sop, nasi dan lauk-pauk sebagai menu utama, berakhir dengan es puter.
Kini Gibran membawahi 15 pegawai tetap dan ratusan tenaga tidak tetap yang dipekerjakan pada saat resepsi digelar. Sebagian besar adalah warga di sekitar kantor Chili Pari Catering di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari di pinggiran Kota Solo. Mengaku masih tidak tertarik dengan dunia mebel yang pernah digeluti ayahnya, Gibran bersiap melirik bidang baru sebagai pengembangan bisnisnya. 

Saturday, 25 October 2014

LAWEYAN, BELANJA BATIK BONUS WISATA SEJARAH


Sekitar akhir abad ke-19 dan ke-20, sebuah kampung di Solo, Jawa Tengah, terkenalSebagai  pusat perdagangan batik Indonesia. Di kampung inilah batik tulis dan cap diproduksi, kemudian didistribusikan ke seluruh Nusantara hingga luar negeri. Tak hanya melahirkan saudagar-saudagar batik yang termasyhur namanya, di kampung ini juga lahir tokoh pergerakan nasional lewat Sarekat Dagang Islam, KH Samanhoedi.

Laweyan, itulah nama yang terkenal dengan kawasan Kampoeng Batik Laweyan. Deretan tembok kuno setinggi 5-7 meter yang berdiri kokoh di beberapa jalan sempit menuju kawasan kampung batik itu merupakan peninggalan saudagar-saugadar batik di daerah tersebut.Jalan-jalan sempit yang masuk dari Jalan Radjiman, Solo, itu seakan menjadi gerbang sebelum menelusuri rumah-rumah batik atau gerai batik yang tersebar di kampung tersebut.

Ketika menapaki jalan-jalan di Kampoeng Batik Laweyan, pengunjung seakan menapak tilas dan mengenang kejayaan batik di daerah yang pernah menjadi tempat bermukim Kyai Ageng Henis, keturunan Raja Brawijaya V dari Majapahit.

Di kampung ini banyak gang sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Konon, selain untuk menjaga kerahasiaan usaha batik, tembok-tembok tinggi yang mengelilingi rumah menyerupai benteng itu juga dibangun karena para saudagar berusaha menciptakan daerah ”kekuasaan” di lingkungan mereka. Zaman dulu, pintu-pintu rumah itu jarang dibuka lebar.
Bahkan, di antara tembok-tembok tinggi tersebut ada sebuah rumah besar perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa seluas 1.800 meter persegi. Rumah di Jalan Sidoluhur 18 yang dibangun tahun 1915 oleh pemiliknya, Tjokrosoemarto (almarhum), ini masih berdiri megah dengan nuansa keindahan tempo dulu. Hampir setiap sudut rumah, termasuk perabotan, dipenuhi beragam motif batik. Orang Solo menyebut rumah ini sebagai nDalem Tjokrosoemartan.

Semakin dalam menyusuri Kampoeng Batik Laweyan, pengunjung bisa menemukan rumah-rumah berarsitektur Jawa dengan atap limasan yang menjadi toko atau gerai batik sekaligus tempat produksi atau gudang batik. Beberapa menambah menambah kaca transparan di bagian depan rumah agar produk-produk batik yang dipajang terlihat dari luar.

Deretan papan nama setiap gerai batik pun langsung menyambut pengunjung. Di tiap gang ada petunjuk galeri-galeri batik. Jika datang membawa mobil pribadi, mobil bisa diparkir di dalam kampung batik tersebut. Namun, jika menggunakan bus, bus bisa diparkir di pinggir Jalan Radjiman, kemudian pengunjung berjalan kaki ke Kampoeng Batik Laweyan atau naik becak.
Rumah-rumah batik yang biasanya dibuka mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 ini menawarkan berbagai produk batik, mulai dari kain, pakaian, kaus, serta berbagai kerajinan dari batik (seprai, tas, sandal, dan sepatu), hingga perlengkapan interior rumah dari aplikasi batik. Produk ini dibuat dari kain batik berbahan katun, sutra, satin, dorby, paris, atau primis-primissima dengan beragam motif.
Biasanya, ketika berbelanja, pengunjung langsung dilayani pemilik rumah batik. Kendati hanya disuguhi air mineral, karena berada di rumah, suasana belanja kadang tidak terasa seperti di toko. Pengunjung sering larut dalam obrolan dengan pemilik rumah batik. Beberapa rumah batik dibuka hingga bagian dalam rumah sehingga pengunjung bisa duduk selonjoran di lantai sambil memilih-milih batik yang akan dibeli. Untuk kenyamanan pengunjung, beberapa butik menggunakan pendingin ruangan.
Bagi yang belum pernah melihat pembuatan batik, di sejumlah rumah batik, pengunjung bisa menyaksikan cara membuat batik, bahkan bisa ikut coba-coba memegangcanting (alat untuk membatik) dan menorehkan malam (lilin) ke kain-kain putih yang disediakan pemilik rumah batik. Beberapa menempatkan pekerjanya yang tengah membatik di bagian depan rumah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli.
Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan yang menjadi wadah perajin batik di Laweyan menawarkan kursus singkat membatik selama dua jam dengan biaya Rp 30.000 per orang dan peserta minimal 10 orang. Hasil karya dan canting dibawa pulang. Jika menambah Rp 10.000 per orang, pengunjung mendapat makanan dan minuman khas Jawa.
Setiap rumah batik biasanya punya ciri khas sendiri-sendiri dalam hal motif dan potongan busana. Ini karena sebagian besar dari mereka memproduksi sendiri kain batik atau busana yang ditawarkan. Umumnya batik yang dijual dari batik tulis dan cap, tetapi beberapa sudah mulai menawarkan printing (tekstil bermotif batik).
Harga produk batik pun bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga jutaan rupiah, tergantung dari bahannya. Jika terbuat dari batik tulis, apalagi yang menggunakan bahan pewarna alami, harga sepotong kain batik tulis bisa di atas Rp 500.000.
Untuk pembayaran, bagi yang tidak membawa uang tunai cukup, jangan khawatir. Beberapa rumah batik sudah menyiapkan alat pembayaran elektronik untuk kartu debet atau kartu kredit. Namun, jumlahnya belum begitu banyak.
Untuk melayani para pembeli, satu-dua galeri batik di Laweyan mulai memberanikan membuka pelayanan hingga 24 jam, terutama di Jalan Radjiman, seperti Batik Beteng dan Batik Omah Laweyan. Biasanya toko dibuka 07.30-22.00. Namun, di luar jam itu, pembeli yang datang dibukakan pintu oleh pramuniaga yang berjaga.
Toko-toko ini biasanya berupaya jemput bola dan melihat peluang seringnya tamu kesulitan memperoleh batik di luar ”jam normal”. Pelayanan 24 jam terutama bagi tamu luar kota yang ingin beli oleh-oleh batik, tetapi waktunya terbatas karena mengikuti acara seharian dan harus pulang keesokan harinya. Bahkan, ada yang memberi layanan antar jemput gratis bagi tamu dari penginapan ke rumah batiknya.
Jika masih ada waktu, beberapa situs sejarah juga menanti dikunjungi, antara lain Masjid Laweyan yang menjadi satu kompleks dengan makam Kyai Ageng Henis dan Kyai Ageng Beluk, situs rumah dan makam KH Samanhoedi (pendiri Sarekat Dagang Islam), situs Bandar Kabanaran, Langgar Merdeka, serta Langgar Laweyan. Kuliner lokal, seperti apem dan leker khas Laweyan, juga layak dibawa sebagai oleh-oleh. Jika ingin semakin menyelami atmosfer Laweyan, beberapa hotel dan penginapan siap menaungi tidur Anda, misalnya Roemahku dan Hotel Laweyan.

SEJUTA RASA INDONESIA DI RESTORAN ADEM AYEM SOLO


Menyantap ayam goreng, rasanya sudah menjadi hal biasa. Tetapi, akan terasa berbeda kalau Anda mencoba ayam goreng di Restoran Adem Ayem (AA). Ayam goreng di restoran yang terletak di Jalan Slamet Riyadi itu rasanya gurih dengan tekstur daging lembut, renyah, dan tidak alot. Hidangan tepat saat berkumpul bersama keluarga atau relasi bisnis tanpa harus takut terlihat sibuk dengan alotnya daging.

Warna ayam gorengnya kuning kecoklatan dengan bumbu yang menyerap hingga ke seluruh daging. Kalau mau, Anda juga bisa menggigit-gigit ujung tulang yang rasanya renyah dan gurih.

Rahasia kerenyahan ayam goreng AA adalah daging ayam direbus terlebih dulu bersama bumbu-bumbu sebelum digoreng. Rontokan kulit ayam sisa menggoreng yang rasanya gurih-gurih asin juga disertakan dalam hidangan dalam bentuk seperti serundeng (kremesan).

Ayam goreng nikmat disantap saat hangat bersama nasi putih dan lalapan serta sambelnya. Meski disediakan sendok dan garpu, tapi akan lebih nikmat jika menyantap ayam goreng itu dengan tangan, seperti saat menyantap masakan Padang.

Untuk melengkapi kenikmatan hidangan, jus Adem Ayem bisa menjadi pilihan yang pas. Jus itu dibuat dari berbagai buah yang dicampur menjadi satu, yaitu semangka, nangka, nanas, dan melon. Dengan rasa manis yang pas, jus berwarna merah jambu memikat itu menggoda selera.

Selain ayam goreng, gudeg juga menjadi salah satu menu andalan restoran AA. Berbeda dengan gudeg jogja, gudeg di Adem Ayem tidak terlalu manis dan warnanya tidak sepekat gudeg yang biasa ditemui di Yogyakarta. Rasa sambel gorengnya lebih pedas dibanding gudeg jogja. Tak seperti gudeg jogja yang kering, gudeg AA agak basah. Demikian pula arehnya yang seperti saus dan berwarna putih.

Gudeg AA yang ditaruh di kendil dapat tahan 24 jam. "Banyak turis dari Hongkong, Singapura, dan Malaysia membawa gudeg ini ke negara asal," kata Lies Rosmiyati Herlambang (57), pemilik rumah makan AA.

Gudeg AA mempunyai rasa khas yang diperoleh dari cara memasaknya yang menggunakan kayu bakar. "Khusus gudeg, dari dulu saya selalu masak dengan kayu bakar. Bau sangit yang muncul dari kayu yang dibakar memberi aroma khas pada gudeg," ungkap Lies.

Sebagai lauknya, disediakan daging ayam dan telur. Menurut Lies, gudegnya disukai banyak orang, terutama mereka yang tidak terlalu suka manis. Tokoh nasional KH Abdurrahman Wahid adalah pelanggan setia restoran AA. "Kalau ke Solo, beliau menyempatkan mampir makan langsung di sini. Beliau paling suka dengan ayam goreng, empuk katanya," ungkap Lies menirukan perkataan Gus Dur.

Selain gudeg dan ayam goreng, restoran AA juga menyediakan menu lain, seperti soto, bakso, bakmoy, gado-gado, galantin, racikan selat (salad), udang goreng asam manis, dan puluhan menu lainnya. Karena banyak dari konsumennya yang menanyakan menu masakan China, Lies kemudian menyajikan pula menu seperti lomi, bihun, fu yung hai, cap cay, ca kay lan, dan lain-lain.

Pengunjung juga bisa puas memilih menu minuman. Ada 80 menu masakan dan 50 jenis minuman. Harga relatif terjangkau, mulai Rp 3.000-Rp 10.000 untuk minuman, dan Rp 5.000-Rp 35.000 untuk tiap menu masakan. Gudeg dalam kendil harganya Rp 50.000 sampai Rp 90.000.

Interior restoran yang tidak terlalu istimewa diimbangi foto- foto "tempo doeloe" beberapa lokasi di Solo serta kebersihan dan kerapian. Restoran AA berdiri sejak 1969. Saat ini, telah ada dua cabang lain, di Yogyakarta dan Denpasar dengan menu serupa dengan andalan ayam goreng dan gudeg.

Semula, AA hanya menggunakan meja kecil tempat Lies menggelar masakannya berupa gudeg dan ayam goreng dengan dua pembantu. Kini, ia telah mempekerjakan 150 tenaga kerja. Kuncinya, mempertahankan rasa yang telah disukai konsumen dan menjaga pelayanan dan kepercayaan pelanggan. 

SENSASI RASA ES DAWET TELASIH PASAR GEDE

Seorang perempuan muda, mengenakan kaus tank-top ungu, mendekati meja yang di atasnya terdapat bebe- rapa panci dan baskom. Ia memesan empat bungkus es dawet kepada sang penjual. "Tak usah pakai es, Bu. Mau saya masukkan ke kulkas. Mau saya bawa ke Yogyakarta," katanya, beberapa saat lalu.

Seorang teman juga bercerita pernah membawa 10 bungkus dawet ini sebagai oleh-oleh bagi teman-teman yang ditemuinya di Bentara Budaya Jakarta.
Begitu terkenalnya es dawet ini sehingga tak heran orang membawa sebagai oleh-oleh hingga ke luar kota. Orang menyebut es dawet telasih, karena tidak hanya berisi dawet (cendol), tetapi juga diberi telasih atau selasih yang rasanya kenyes-kenyes dingin saat digigit.

Penjual es dawet telasih berada di salah satu sudut Pasar Gede, Solo. Sejarah es dawet telasih dimulai puluhan tahun lalu hingga kini mencapai generasi keempat, yang pengelolaannya kini dipegang Tulus Subekti atau Utik, yang mewarisi usaha ini ibunya, Dermi.

"Yang memulai mbahnya ibu saya. Sekarang yang berjualan saya dibantu dua orang, karena ibu tidak kuat. Beliau hanya membuat di rumah dibantu tiga orang dan kakak saya," jelas Utik, sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.

Es dawet telasih tidak hanya berisi dawet, tetapi juga dilengkapi jenang atau bubur sumsum, ketan hitam, tape ketan, dan irisan nangka. Sajian bahan tadi diguyur air gula putih dan santan. Rasanya khas karena diberi selasih dan manis hingga ke sendokan terakhir. Agar lebih segar, sajian es dawet telasih diberi es batu.

Cendol pada es dawet telasih dibuat dari tepung beras yang diberi pewarna alami dari daun suji, sehingga berwarna hijau muda. Bentuknya sengaja tidak sebesar yang lainnya sehingga mampu menyerap manis air gula. Jenang sumsum yang gurih dan ketan hitam yang manis semakin melengkapi variasi rasa dawet telasih.

Es dawet telasih sejak awal dijual di salah satu sudut Pasar Gede, dan tidak pernah pindah. Pengunjung bisa menikmati dawet itu di situ sambil duduk di bangku panjang yang disediakan. Pembeli juga bisa memesan variasi kesukaannya, seperti tak pakai tape atau santan, agar lebih awet jika dibawa perjalanan jauh. Utik bercerita, pembelinya sering membawa es dawet telasih ke luar kota.

"Kami juga sering diminta pesanan dari luar kota untuk berbagai acara, seperti hajatan, pernikahan, dan lainnya. Kalau tempatnya jauh, kami membuat dawet di sana. Kalau dekat, kami membawanya dari Solo," tuturnya.

Untuk mempertahankan cita rasa es dawet telasih, Utik menggunakan bahan tradisional tanpa pengawet. Hasilnya, kini dalam sehari dia mampu menjual hingga 400 mangkok dawet dengan harga per porsi Rp 2.500. Saat Lebaran, sehari ia bisa menjual 1.000 mangkok.

TIMLO SASTRO, MEMPERTAHANKAN TRADISI RASA


Mendengar kata timlo, orang akan segera teringat Kota Solo. Timlo yang merupakan jenis masakan ini melekat dengan nama Solo, selain juga nama grup pelawak yang juga berasal dari Solo, yakni Teamlo.

Belum jelas benar, bagaimana asal-usul timlo, yang jelas masakan yang penampilannya seperti gabungan antara sop dan soto ini banyak digemari penikmat masakan. Kuahnya yang seperti sop atau bakso terasa segar ditambah dengan irisan rempela ati, risoles sosis, dan telur. Kalau suka boleh juga ditambah dengan tahu goreng.

Timlo cocok disantap di semua suasana, baik pagi, siang, maupun malam hari. Selain membuat perut kenyang, lidah juga akan dimanjakan dengan rasa gurih dari berbagai isi timlo, seperti sosis dan rempela yang kenyal.

Salah satu rumah makan yang sejak dulu terkenal dengan menu timlonya adalah Timlo Sastro. Pasangan Sastro Hartono dan Suharmi merintis usaha ini sejak tahun 1952. Awalnya mereka berjualan di belakang Pasar Gede dengan sistem pedagang kaki lima (PKL) sampai akhirnya mampu membeli kios.

Usaha mereka pun laris karena mereka konsisten hanya menjual timlo dengan rasa yang dipertahankan. Sampai sekarang, penerus usaha ini, yaitu anak-anak Sastro dan Suharmi, mempertahankan warisan resep dan rasa timlo yang kini menjadi bagian dari legenda masakan-masakan khas di Kota Solo.

"Sebenarnya warung makan lain juga ada yang menjual timlo, tetapi bercampur dengan menu lain. Orangtua kami hanya menyajikan timlo," kata Hardjono, anak ketiga yang kini menjadi penanggung jawab jalannya usaha ini.

Nama Timlo Sastro kini menjadi semacam jaminan tersendiri bagi mereka yang ingin menikmati timlo khas Solo. Kini, warung ini dikelola keempat anak Sastro Hartono dan Suharmi sejak keduanya meninggal dunia pada sekitar pertengahan tahun 1980-an.
Selain Hardjono (47), usaha ini juga dikelola oleh Sri Mulyani (53), Setyo Tri Wahyuni (49), dan Anik Sri Haryani (42). Sejak lima tahun lalu, usaha keluarga ini juga membuka cabangnya di Jalan Dr Soepomo, Solo. "Rasanya ditanggung sama dengan yang di Pasar Gede karena masaknya jadi satu di rumah lalu di bawa ke masing-masing warung," tambah Hardjono.

Satu porsi timlo komplet berharga Rp 9.000. Agar suasana makan semakin enak, si empu warung juga menyediakan berbagai pernak-pernik pelengkap lainnya yang cocok untuk dicemplungkan ke dalam kuah timlo, seperti brutu dan usus.

Resep timlo sebenarnya sederhana, hanya menggunakan bawang putih, lada, pala, dan bawang merah yang digoreng sebagai taburan di atas nasi yang dihidangkan. "Tidak ada rahasia pada resep kami, kontrol rasa juga tidak ada yang khusus. Semua dilakukan tradisional karena sudah biasa memasaknya," ungkapnya. 

JAJAN PASAR BU SUM PASAR GEDE


Gathot, sawut, gronthol, pule cethot, dan jongkong. Nama-nama ini barangkali bagi sebagian kita terdengar asing. Tidak heran, karena nama-nama ini yang sebenarnya adalah jenis makanan sudah jarang sekali ditemui. Kedudukan mereka pun sudah tergantikan oleh makanan "modern", seperti donat, pizza, atau hamburger.

Dahulu, kudapan ini bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional sehingga kerap dijuluki jajan pasar, jajanan yang dibeli dari pasar. Kini, makanan-makanan itu tidak mudah lagi ditemukan. Hanya di pasar tradisional tertentu masih dijajakan, seperti di Pasar Gede. Bila Anda sempat mengunjungi pasar berarsitektur indah ini, sempatkanlah mampir hingga ke bagian tengah pasar. Di jajaran oprokan yang terletak di gang kedua ini terdapat lapak jajan pasar Bu Sum yang menjual jajan pasar paling lengkap dibanding lapak sejenis di pasar lainnya.

Selain lima jenis makanan tadi, Bu Sum juga menawarkan getuk singkong, ketan item, ketan putih, pule gendhar, klepon, jadah blondo, cenil, dan tiwul. Tiwul bahkan dibedakan menjadi dua, yang dicampur gula pasir atau gula jawa.

Rasa jajan pasar ini sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Namun, saat gigi menggigit dan lidah merasai tekstur atau mencecap rasa berbagai jajan pasar ini, seperti ada rasa kangen yang terobati atau kepuasan bisa mencicipi makanan yang barangkali dalam beberapa tahun ke depan tinggal cerita.

Harganya pun murah meriah, hanya Rp 1.500-Rp 2.000 per bungkus. Isinya bisa satu jenis, beberapa, bahkan seluruh jenis jajanan sesuai pesanan pembeli yang lalu dibungkus daun pisang. Bu Sum juga melayani pesanan secara rutin dari bank atau hotel berbintang.
Bu Sum yang punya nama lengkap Suminem (43) akan melengkapi cita rasa jajan pasar ini dengan taburan parutan kelapa, juruh (cairan gula jawa), bubuk kedelai, atau gula halus, tergantung jenis jajanan.

Lapak Bu Sum buka pukul 06.30 dan baru tutup sekitar pukul 13.30 atau ketika dagangannya habis. Semua jenis jajan pasar ini dibuatnya sendiri mulai pukul 03.30. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 20 kilogram singkong, 7 kg ketan item, dan 3,5 kg ketan putih.
Suminem mulai berjualan jajan pasar di Pasar Gede sejak usia 15 tahun. 

"Di sini iyup dan pembelinya orang-orang gede. Harapannya belanjanya banyak," ujar Suminem tentang alasannya memilih Pasar Gede sebagai tempat jualannya.

Awalnya, ia menjual lima jenis jajanan, lalu secara bertahap ia menambah varian makanan hingga kini lebih dari 10 jenis. 

MENCICIPI SOTO KEGEMARAN PAK HARTO DI STADION MANAHAN

Bila Anda melintas di kawasan Stadion Olahraga Manahan, Kota Solo, jangan lupa mampir ke warung soto Pak Di. Soto daging sapi dan daging ayam buatan Walito Diharjo (57), nama lengkap Pak Di ini, meskipun dijual di kaki lima, bercita rasa istana.

Pasalnya, sotonya sangat digemari dan pasti disantap mantan Presiden Soeharto dan keluarganya saat berkunjung ke Kota Solo. Pak Di akan diundang melayani keluarga Cendana di Dalem Kalitan, kediaman keluarga Soeharto di Solo. Tidak ketinggalan, angkringan dan kuali sotonya turut ia bawa masuk ke Dalem Kalitan.

Soto Pak Di terdiri dari suwiran daging sapi atau ayam yang ditaburi tauge, potongan daun seledri, dan bawang goreng yang kemudian disiram kuah soto yang berbumbu racikan laos, sereh, jahe, daun salam, lada, kemiri, garam, dan daun jeruk purut. Agar sedap, kuah yang berasal dari air rebusan daging ini diberi tempe bosok, yakni tempe yang hampir busuk.
Untuk melengkapi kenikmatan menyantap soto, Pak Di menyediakan kerupuk karak, gorengan tahu dan tempe, sate telur, sate paru, sate kerang, kerupuk, dan peyek untuk menemani acara santap soto.

Harga satu porsi soto daging sapi dan ayam hanya Rp 3.000. "Warung soto saya libur setiap hari Senin. Tanggal merah atau hari libur besar, saya justru buka, termasuk Lebaran. Ini untuk melayani mereka yang berlibur ke Solo," ujar Pak Di yang memulai berjualan soto keliling pada 1981.



Kios sotonya yang terletak di sebelah barat GOR Manahan atau tepatnya di sebelah timur pintu masuk Asrama Polisi Manahan buka pukul 06.00-14.00. Sebagian besar pelanggan lebih menggemari soto sapi buatannya, termasuk Pak Harto yang selalu meminta makan soto dengan mangkok milik Pak Di. 

"Kalau pakai mangkok milik Dalem Kalitan, malah tidak mau. Mungkin terlalu bersih ya," katanya setengah berkelakar.

Pak Di mulai menjadi langganan keluarga Cendana pada tahun 1991. Saat itu ada tujuh penjual soto yang diundang ke Dalem Kalitan. Pak Di mendapat giliran terakhir, tetapi justru ia yang terpilih untuk melayani keluarga Soeharto saat berkunjung ke Dalem Kalitan. Setelah Tien Soeharto meninggal 1996, 

Pak Di justru diminta menyuguhi tamu- tamu yang datang ke Dalem Kalitan dengan soto buatannya. Bila tidak ada tamu, ia berjualan soto di bawah pohon beringin yang ada di depan Dalem Kalitan sehingga sempat dikenal sebagai soto Kalitan. Pak Di pindah berjualan ke Manahan setelah Soeharto lengser. 

CABUK RAMBAK YU TEMU YANG "NGANGENI"



Selain nasi liwet dan tengkleng yang menjadi ikon masakan khas Solo, masih ada satu lagi masakan asli Solo yang selama ini terkesan "tenggelam" oleh kesohoran masakan khas Solo lainnya, yakni cabuk rambak. Terkesan sederhana, tetapi cabuk rambak menyimpan keunikan tersendiri.

Dahulu, cabuk rambak lebih banyak dijajakan dengan berkeliling oleh ibu-ibu. Kini banyak penjual cabuk rambak lebih suka mangkal di tempat tertentu yang strategis. Salah satu yang terkenal adalah cabuk rambak Yu Temu yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno, persisnya di sebelah utara kompleks Stadion Manahan atau di depan kompleks Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Solo.

Cabuk rambak tersusun atas irisan ketupat yang di atasnya disiram bumbu, seperti bumbu pecel. Bedanya kalau bumbu pecel berbahan utama kacang tanah goreng yang ditumbuk halus, bumbu cabuk rambak berbahan utama parutan kelapa dan wijen yang digoreng sangrai.

Sajian cabuk rambak akan dilengkapi dengan kerupuk karak. Kerupuk yang rasanya khas ini dibuat dari tumbukan nasi yang diberi bumbu khusus yang disebut bleng, diiris tipis-tipis lalu dijemur. Setelah irisan nasi tadi benar-benar kering lalu digoreng hingga berwarna kecoklatan.

Rasa cabuk rambak Yu Temu khas karena pembuatan dan bumbunya. Untuk membuat bumbu, ia menggoreng sangrai potongan daging kelapa baru kemudian diparut. Begitu pula dengan wijen yang juga digoreng sangrai. Parutan kelapa dan wijen sangrai ini kemudian dicampur dengan beberapa macam bumbu dapur lalu ditumbuk atau digiling, sesuai tekstur yang diinginkan. Bila digiling, tekstur bumbu yang diperoleh lebih halus. Campuran parutan kelapa dan wijen sangrai menimbulkan rasa legit dan aroma harum.

Untuk bumbu dapurnya, Yu Temu menggunakan bawang putih, garam, gula pasir, gula merah, cabai, dan kemiri goreng. Agar lebih segar, ia menambahkan daun purut ke dalam campuran bumbu. Resep ini ia peroleh turun-temurun dari nenek dan ibunya yang juga berjualan cabuk rambak.

Satu porsi cabuk rambak yang disajikan dengan pincuk daun pisang dihargai Rp 2.000 dan enak dinikmati untuk sarapan. Lapak cabuk rambak Yu Temu yang juga menjual nasi liwet buka setiap hari mulai pukul 06.00-11.00.

Hari libur besar pun ia tetap buka, termasuk saat Lebaran karena pada saat itulah pembeli sedang ramai-ramainya. Pelanggannya, terutama yang berasal dari luar kota sering protes bila saat tiba di Kota Solo, mereka tidak bisa menjumpai cabuk rambak Yu Temu yang menjadi klangenan mereka. Meski terkesan ndeso, makanan tradisional ini benar-benar ngageni termasuk oleh mereka yang tinggal di luar negeri. Yu Temu kerap mendapat pesanan bumbu yang kemudian dibawa ke Amerika, Australia, dan Singapura oleh orang Indonesia yang tinggal di sana. 

PECEL "NDESO" YANG PENUH GIZI...

Kata ndeso biasanya berkonotasi kurang menguntungkan karena bisa berarti kurang maju, kurang tahu, atau kurang yang lainnya. Perkecualian untuk pecel ndeso. Meski namanya diembel-embeli ndeso, kandungan gizi yang ada pada pecel ndeso sama sekali tidak ndeso. Tidak seperti pecel umumnya yang menggunakan nasi putih, pecel ndeso menggunakan nasi dari beras merah yang lebih kaya vitamin dan mineral ketimbang beras putih.
Beras merah juga mengandung vitamin B1 (tiamin) yang mencegah beri-beri dan zat besi yang lebih tinggi. Meski kandungan karbohidratnya lebih rendah dari beras putih, beras merah menghasilkan energi lebih besar.

Kandungan sarat gizi lainnya berasal dari sayur-sayuran khas pecel ndeso. Pecel ndeso menghidangkan rebusan daun pepaya, daun singkong, kenikir, bayam, jantung pisang, dan tauge.

Rasa daun pepayanya tidak pahit karena saat direbus dicampur dengan sedikit tanah liat yang lantas dibilas setelah matang. Bila bumbu pecel biasa menggunakan kacang tanah, bahan dasar bumbu pecel ndeso adalah wijen hitam sangrai yang ditumbuk. Sajian pecel ndeso masih dilengkapi dengan urap mlanding, kemangi, ketimun, dan tauge segar.
Tidak berhenti sampai di sini, karena di atas sayur-sayuran rebus dan urap masih ditambah lagi dengan bongko dan gembrot sembukan.

Bongko dibuat dari kacang merah dan parutan kelapa yang diberi bumbu seperti bumbu pelas lantas dikukus. Gembrot sembukan dibuat dari kukusan daun sembukan dan parutan kelapa yang sebelumnya diberi bumbu bawang putih dan gula.
Untuk melengkapi kenikmatan menyantap pecel ndeso, disediakan kerupuk karak.
Rasa pecel ndeso ini? Meminjam ungkapan pakar kuliner, Bondan Winarno, mak nyuuss. Untuk menikmati sajian lezat ini, Anda bisa pergi ke lesehan pecel ndeso Bu Ndari di sebelah utara Kompleks Stadion Manahan, Solo, tepatnya di seberang Kampus JPOK FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Manahan.

Hanya diperlukan Rp 3.500 untuk menikmati santapan penuh gizi ini. Lapaknya buka setiap hari pukul 06.00-10.00 termasuk hari raya dan libur besar. Pecel ndeso yang khas ini berasal dari Desa Gagaksipat di Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Hampir seluruh penjual pecel ndeso yang tersebar di Kota Solo berasal dari daerah itu. Bumbu pecel ndeso Bu Ndari terkenal kelezatannya. Rasanya legit dan gurih. Tidak heran, jika serombongan ibu-ibu dari Jakarta pernah datang khusus untuk belajar membuat bumbu pecel ndeso seperti yang dibuat Bu Ndari.

"Mereka sampai menghitung takaran yang saya pakai untuk distandarkan. Tapi hasilnya tidak bisa persis. Barangkali faktor sentuhan tangan ya," katanya sambil tersenyum. 

NIKMATNYA MAKANAN VEGETARIAN

Penampilannya tidak beda dengan sate ayam biasanya. rasanya pun gurih dan kenyal seperti daging. Namun ternyata, sate ayam ini bukan sate ayam yang sesungguhnya, melainkan sate yang "daging"-nya dibuat dari gluten atau protein lengket dan elastis yang terkandung di dalam beberapa jenis serealia, seperti gandum, jewawut, dan oat.

Selain sate "ayam", ada pula "ayam" bakar dan daging "sapi" bertabur wijen yang menjadi menu hari itu di Rumah Makan Vegetarian Maitreya Jaya. Rumah makan ini khusus menyajikan menu bagi vegetarian yang sama tidak mengonsumsi produk hewani.

Menu berganti-ganti setiap hari. Siang itu, selain ada menu menggiurkan sate dan ayam bakar, ada pula ca baby buncis bertabur "daging" kremes krispi, baby kailan dengan jagung manis, semur kentang yang ditambah irisan "daging" sapi, dan "daging ham" masak merah.

"Kami juga punya menu spesial, seperti bistik vegetarian, bebek peking, cap cay, sapo tahu, dan fuyung hai. Menu ini baru masak setelah dipesan agar segar. Semuanya tentu saja vegetarian," kata Meiqin, pengurus Rumah Makan Vegetarian Maitreya Jaya.

Selain tidak menggunakan bahan produk hewani, masakan di Maitreya Jaya juga tidak menggunakan penyedap rasa monosodium glutamate dan bawang. Sebagai gantinya digunakan penyedap rasa dari jamur.
Rumah makan ini berada di lantai bawah bangunan Vihara Maitreya Muni di Jalan AR Hakim 73, Kepunton, Kota Solo. Penganut ajaran Mahatao Maitreya mempercayai bahwa vegetarian adalah cikal bakal Ketuhanan. Ajaran ini bernaung di bawah Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia.

"Vegetarian adalah ajaran untuk cinta kasih," kata Meiqin yang juga vegetarian.
Menurut Meiqin, rumah makan yang ada sejak 10 tahun lalu ini awalnya untuk menyediakan kebutuhan vegetarian yang kerap kesulitan mencari makanan yang sesuai dengan pilihan hidup mereka. Namun, pelanggan Maitreya Jaya kini tidak hanya mereka yang menjadi vegetarian berdasar ajaran keyakinan, melainkan juga yang beralasan kesehatan.

Rumah Makan Maitreya Jaya buka setiap hari pukul 07.00-14.00. Selain makan di tempat, banyak pelanggan yang membawa pulang makanan yang dibeli untuk disantap di rumah. Harga masakan di Maitreya Jaya terjangkau. Harga nasi campur Rp 5.000-Rp 10.000 per porsi, ayam bakar Rp 3.500 per potong, dan sate daging Rp 1.500 per tusuk, serta menu spesial di atas Rp 10.000 per porsi.
"Tujuan kami bukan murni bisnis, tetapi untuk membantu vegetarian dan menambah penghasilan untuk operasional vihara," ujar Meiqin. 

BURGER TEMPE WARUNG BARU SOLO



Catatan: Tulisan ini dibuat tahun 2005, jadi entahlah apakah saat ini warung ini masih ada atau tidak. Beberapa bulan yang lalu sih masih ada. Nah, yang belum jelas, apakah masih tetap membuat roti tawar ketan hitam dan burger tempe. Warung ini berada di Jalan Ahmad Dahlan, Solo, kalau di Jakarta, ibaratnya Jalan Daksa, dipenuhi penginapan dan warung yang melayani backpackper para turis asing yang datang ke Solo untuk waktu yang cukup lama. Tapi meskipun sudah lama, tidak ada salahnya dicoba kan kalau memang berminat untuk mencicipi burger tempe dan roti tawar ketan hitamnya? 


Sandwich tempe di Warung Baru Solo


Siti Suntari Haryono (52) tidak pernah belajar khusus membuat masakan barat. Namun, kreasinya membuat masakan bercitarasa barat mengantarkannya mampu menghasilkan menu masakan yang inovatif, antara lain roti tawar ketan hitam serta pizza dan sandwich tempe.

Selama ini, orang terbiasa makan roti tawar berwarna putih karena terbuat tepung gandum. Kini oleh Suntari dibuatlah roti tawar ketan hitam yang dibuat dari campuran tepung gandum dan tepung ketan hitam.
Roti ketan hitam buatan Suntari rasanya benar-benar tawar dan keras di bagian kulit namun lembut di dalamnya. Suntari tidak menggunakan telur dan gula seperti proses pembuatan roti tawar umumnya. Ia hanya menambahkan ragi dan garam pada adonan rotinya.

Di warung makannya yang bernama Warung Baru, Suntari menawarkan roti tawar ini dimakan bersama mentega, selai, dan omelet. Ia juga menawarkan kari (curry) dari India dan gauccomole dari Meksiko, teman makan roti tawar ketan hitamnya.

"Gauccomole terdiri dari potongan buah alpukat, tomat, bawang bombai, paprika, dan lemon yang diberi garam. Bule-bule itu kalau makan sampai dikoreti wadahnya," kata Suntari di warungnya.

Roti tawar ketan hitam menu andalan di Warung Baru yang berlokasi di Jl Ahmad Dahlan 23, Keprabon, Solo. Irisan roti ini biasa dipesan untuk makan pagi, siang, atau malam. Terkadang, pembeli yang hampir seluruhnya orang asing memesan beberapa loaf roti untuk dibawa pulang.

Pembeli bernama Jani dari Finlandia sangat menyukai roti tawar ketan hitam buatan Suntari. "Ini benar-benar beda. Selama tiga bulan terakhir travelling saya ke Australia, Meksiko, dan Indonesia, ini roti terbaik yang saya temui. Rasanya tidak jauh beda dari roti yang dibuat ibu saya di rumah," katanya.

Menurut Jani, rasa roti tawar Suntari enak dan rasa tebalnya benar- benar mantap saat digigit. Ia selalu menyempatkan makan di Warung Baru. "Setiap pagi dan malam, saya selalu ke sini sejak saya menemukan warung ini. Harganya murah dengan variasi menu yang sangat banyak," lanjutnya.

Satu loaf roti tawar ketan hitam dijual Suntari dengan harga Rp 7.500. Beberapa iris roti bersama selai atau omelet hanya diberi harga rata-rata Rp 6.000. Awal mula penemuan roti tawar ketan hitam karena tamunya kebanyakan turis asing tidak suka saat disodori roti tawar buatan pabrik lunak dan manis.

Suntari kemudian mencoba membuat kreasi roti lain dari yang sudah ada dan cocok dengan keingingan tamunya. Ia mencampurkan 200 gram tepung ketan hitam ke dalam satu kilogram tepung gandum ditambah masing-masing satu sendok teh garam dan ragi.

Tak hanya menunya unik, warungnya pun unik dengan arsitektur campuran Jawa dan Bali. Dinding bagian atas warung ditutup dengan lembar anyaman bambu yang menimbulkan suasana nyaman dan seperti di rumah sendiri. Suntari selalu memperlakukan tamunya seperti keluarga sendiri. Tamu diperbolehkan duduk berjam-jam di warungnya meski pesanan hanya itu-itu saja.

Para tamu kerasan dengan model pelayanan Warung Baru. Pernah Suntari memindahkan warungnya ke tempat lain yang lebih bagus dan besar, namun diprotes para tamunya. Tamunya tidak suka jika Suntari berpenampilan "wah". Jadilah, sehari-hari Suntari hanya berpenampilan sederhana dan apa adanya mengenakan baju daster batik panjang. Para tamu menganggap penampilannya itu lebih natural, mencerminkan kehidupan asli serta keunikan orang setempat. Suntari mengaku, kemampuan bahasa Inggrisnya adalah "Inggris tarzan", hanya sekadar "nyambung" saat berkomunikasi. Namun, senyumnya yang selalu tersungging di wajahnya yang ramah membuat para tamu terkesan.

Hubungan Suntari dan tamu-tamunya tidak hanya sebatas penjual dan pembeli, namun lebih dari itu seperti saudara. Suntari membiarkan tamu menggunakan dapurnya jika mereka kangen memasak masakan asli negara mereka. Dengan demikian, Suntari dapat "mencuri" ilmu tentang rasa asli dan selera lidah para tamunya.
Sebagai gantinya, ia juga memasukkan unsur masakan lokal ke dalam masakan barat, seperti pizza tempe dan sandwich tempe. Ternyata, para tamu menyukainya. Sandwich dan pizza tempe tak ubahnya seperti sandwich dan pizza dari negeri asalnya.

Untuk sandwich, Suntari menggunakan tiga iris roti tawar ketan hitam. Di sela-sela irisan tadi ditaruh irisan tomat, bawang bombai, ketimun, dan tempe goreng. Di puncak ditaruh kerukan daging buah alpukat. Agar tamu-tamu mengenal kreasi masakannya, ia rajin menawarkan dan memberi harga khusus kepada para tamunya. Saat awal meluncurkan roti tawar ketan hitamnya, Suntari menyisipkan irisan roti tawarnya sebagai bonus sajian kepada tamu. Lama-kelamaan, tamu menanyakan sendiri roti tawar ketan hitamnya.

Dari hasil menjalankan Warung Baru, Suntari mampu membangun empat home stay. Rencananya dalam waktu dekat ia akan membuat warung khusus masakan Jawa dan Padang.