Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Wednesday, 19 November 2014
INDRAWATI DAN KREASI PERCA BATIK
Perca batik adalah limbah. Namun, di tangan Indarwati (34) limbah itu menjadi produk bernilai ekonomi dan mengandung kreativitas tinggi. Indarwati memproduksi sandal, dompet tangan, tas, pembungkus laptop, dan dasi dari perca kain batik. Berhiaskan manik-manik, kain yang semula teronggok di sudut rumah menjelma sebagai produk yang dijajakan di hotel hingga ke luar negeri.
Indarwati mulai menggeluti usaha itu tahun 1999 setelah sebelumnya membantu usaha sang ayah, Abdul Gani, yang membuat sandal batik sejak penghujung tahun 1989. Semula, Abdul Gani membuat sandal dan selop dari kulit sintetis pada tahun 1970-an. Atas permintaan pelanggan, Abdul Gani dibantu Indarwati mulai membuat sandal yang dibungkus kain perca batik. Usaha itu lebih prospektif dibanding usaha sebelumnya yang berbahan baku kulit sintetis.
"Produk sandal batik ini peka zaman, selalu punya pasar," kata Indarwati yang tengah hamil anak kedua, di rumahnya di Kampung Joyodi-ningratan, Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, April lalu.
Indarwati yang semula membantu sang ayah memutuskan terjun total ke dunia produk dari perca batik. Dia membuat dompet, tas, dasi, dan tas pembungkus laptop dari perca batik. Dia memulai usaha itu tahun 1999 setelah memiliki anak pertama. Sebelumnya, dia pernah menjajal posisi tenaga pemasaran sebuah pabrik karung plastik selama tiga tahun.
Selain memberi penghasilan lebih besar, bekerja di rumah membuatnya tetap dapat mengasuh sang buah hati yang kini berusia 10 tahun. Indarwati dan ayahnya kini bermitra dengan 12 orang yang mengerjakan produknya dari rumah masing-masing.
Setiap bulan, Indarwati dan ayahnya menghasilkan 3.000-5.000 sandal dan 300-500 dompet. Pemasaran produk di Pasar Klewer oleh sang ibu, Supini. Sebagian besar produk mereka pesanan pelanggan, antara lain hotel di Lembang, Jawa Barat.
Produk sandalnya juga pernah menjadi suvenir untuk peserta Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia dan Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Solo. Sandal batik itu kemudian diekspor ke beberapa negara oleh pembelinya.
Harga sandal tersebut Rp 7.500-Rp 12.500 per buah bergantung tingkat kerumitan model. Harga dompet Rp 4.000-Rp 40.000 per buah. Sementara harga dasi Rp 35.000 per buah.
Bahan untuk dompet dan dasi adalah kain batik tulis sutra ATBM (alat tenun bukan mesin), sedangkan sandal dan lainnya dari kain batik nontulis.
Seorang pengepul perca batik rutin menyetor bahan baku kepada Indarwati yang membelinya seharga Rp 10.000 per kilogram. Sementara harga kain perca batik tulis sutra ATBM Rp 40.000 per kilogram.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 12 Mei 2009
HERU PEMBUAT MAINAN ANAK RAMAH LINGKUNGAN
Herumanto Moektijono (44) tidak pernah menduga jalan hidup akan membawanya seperti sekarang ini, menekuni dunia mainan anak-anak. Herumanto, yang akrab dipanggil Heru, awalnya membuka usaha desain interior. Kliennya banyak meminta desain interior untuk kamar anak. Dari sini ia melihat, bidang ini belum banyak digarap dengan serius.
"Padahal, anak-anak peka keindahan. Namun kerap anak-anak hanya diberi penataan yang asal-asalan," kata Herumanto di bengkel kerjanya di Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Senin (18/5).
Pada tahun 2007 ia memberanikan diri mengikuti pameran di Malioboro Mall, Yogyakarta, dengan mebel dan mainan anak-anak produksinya. Animo yang besar, terutama pada mainan, membuatnya memutuskan menggeluti dunia mainan anak lebih serius.
Produknya yang halus dan inovatif membuat pasar merespons positif. Kini tak kurang dari ratusan jenis mainan anak-anak diproduksinya. Produksinya dibagi menjadi tiga macam, furnitur, aksesori ruangan, dan mainan anak, seperti meja, kursi, teka-teki (puzzle), baju mainan, dan menara kotak lingkar. Tiap bulan ia mengeluarkan dua-lima desain baru.
Tahun 2008, saat penyelenggaraan Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia, Heru terinspirasi untuk mengangkat warisan budaya lokal dalam mainan anak karyanya. Jadilah motif batik, keris, dan wayang menjadi tema mainan karyanya, seperti dalam puzzle. Heru mengutamakan orisinalitas dalam karyanya.
"Tidak ada karakter luar negeri, seperti Disney dalam mainan saya. Bukan tidak baik tetapi saya lebih suka mengajak anak mengenali alam dan budaya lokal, misalnya dengan bentuk kepik, capung atau rajamala," kata Heru, yang juga hobi fotografi.
Keasyikan
Lama-lama Heru menemukan keasyikan dalam dunia ini dan kini justru lebih berfokus pada produksi mainan anak-anak meski tidak meninggalkan desain interior. Furnitur hanya dibuat jika ada pesanan.
"Kalau mau cari uang, desain interior memberi materi lebih besar. Namun dari segi kepuasan, saya lebih senang membuat mainan anak-anak karena menantang kreativitas dan bebas berkreasi. Dalam desain interior saya mengikuti kemauan klien," kata Heru.
Kualitas mainan anaknya selain halus dan rapi juga menggunakan cat tak beracun (nontoxic) agar tidak membahayakan anak. Kini Heru tengah meneliti penggunaan batok kelapa, rotan, dan daun-daunan sebagai bahan baku mainan untuk melengkapi karyanya yang selama ini dibuat dari kayu lapis jenis medium density fiberglass.
Mainan karya Heru dibandrol harga Rp 9.000-Rp 150.000, sedangkan furniturnya satu set mencapai Rp 5 juta. Produknya bisa ditemui di Solo Square dan Solo Grand Mall dengan label Cil-Cil, selain di websitenya di www.cil-cil.com.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 2 Juni 2009.
EDI SI KREATOR WAYANG BATIK
Terinspirasi oleh Solo Batik Carnival atau SBC tahun 2008, Ami Joyo Warso Edi menciptakan wayang batik carnival. Wayang ini seperti wayang golek, tetapi menggunakan kostum seperti yang digunakan peserta SBC, khas kostum karnaval yang terkesan megah.
Padahal Edi, panggilan akrabnya, hanya memanfaatkan perca batik. Dibungkus kreativitas dan keuletan yang tinggi, jadilah produk wayang yang tak kalah megah seperti halnya penampilan peserta karnaval.
Edi sebenarnya bergerak di bidang jasa konstruksi yang lantas mengembangkan usaha furnitur antik. Persentuhannya dengan barang-barang antik mengasah naluri seninya. Dibantu beberapa asisten, Edi menyalurkan ide dan kreativitasnya dalam menciptakan wayang batik carnival.
"Dua minggu sebelum SBC tahun 2008, saya membuat wayang batik carnival. Bermodal foto-foto di media tentang ekspos rencana SBC, jadilah tiga buah wayang," kata Edi saat dijumpai di rumahnya di Jalan Lesanpuro, Jamsaren, Solo, beberapa waktu lalu.
Tiga karyanya yang dipamerkan di ajang Srawung Batik yang digelar bersamaan dengan perhelatan SBC 2008 mendapat apresiasi positif, baik dari panitia maupun Wali Kota Solo Joko Widodo. Edi pun semakin mantap berkarya. Pernah dia memajang foto sebuah karyanya di situs internet seorang teman. Seorang pembaca dari Eropa menyatakan minatnya memesan 60.000 buah wayang karnaval tersebut.
"Dia pikir itu produk massal seperti boneka Barbie. Saya sendiri tidak mampu memenuhi pesanan itu karena ini produk kerajinan tangan, bukan mesin, sehingga sulit untuk mengejar jumlah banyak dalam waktu singkat," kata Edi.
Kini, secara rutin Edi mengenalkan produknya di Night Market Ngarsapura yang buka setiap malam Minggu di depan kompleks Pura Mangkunegaran, Solo. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pernah membeli sebuah wayang batik carnivalnya yang menggunakan kostum batik bernuansa putih. "Sejak itu, banyak orang minta dibuatkan wayang serupa," kata ayah tiga anak ini sambil tertawa.
Beberapa tamu resmi Kota Solo dari berbagai negara yang diajak wali kota mengunjungi Night Market Ngarsapura juga memboyong karya Edi ke negara masing-masing.
Total, Edi telah membuat 30 karya wayang batik carnival yang dibuat dari bahan baku kayu sengon laut, pule, atau trebelo puso. Saat ini dia tengah mencoba membuat figur aksi (action figure) dari bahan akrilik dengan kostum batik carnival atau tokoh pewayangan. Mimpinya adalah anak-anak Indonesia punya action figure-nya sendiri, tidak hanya tokoh Naruto atau tokoh komik Marvel dari luar negeri.
Edi telah membuat action figure tokoh punakawan, gatot kaca, arjuna, dan werkudara. Dia juga membuat kaus bergambar wayang batik carnival. Ide seakan berdesakan keluar dari kepalanya. Ke depan, bukan hanya batik, tetapi juga kain-kain tradisional yang ingin dikenakannya di wayang dan action figure kreasinya. Namun, satu idealisme tetap Edi pegang, yakni menggunakan bahan daur ulang.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 7 Juli 2009
DARI PRALINE HINGGA LOLIPOP ALA YUSAK YANI
Cokelat telah dikenal sejak masa Indian Maya. Biji kakao sangat berharga sehingga dijadikan alat tukar seperti halnya uang. Pada masa Indian suku Aztec, minuman cokelat panas diminum dengan gelas-gelas yang terbuat dari emas. Indonesia kini menjadi penghasil kakao ketiga terbesar di dunia. Meski demikian, hasil olahan cokelat lebih dikenal berasal dari Swiss.
Berangkat dari keprihatinan inilah, Yusak Yani (45) mulai berkreasi membuat produk cokelat dengan sentuhan dekorasi seperti yang dilakukan dalam pembuatan kue pengantin. Jadilah, produk permen cokelat aneka bentuk dan warna, praline (kepingan cokelat), dan lainnya.
Ayah dua anak ini pernah mencicipi kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Karena kesulitan biaya, kuliahnya terputus. Ia pun banting setir dengan bekerja di perusahaan bakery dengan keahlian membuat pastry, lalu dipercaya membuat kue pengantin dan ulang tahun. Yusak sempat berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan bakery lainnya di Kota Semarang dan Kota Solo.
Keterampilannya menghias kue diperoleh, kemudian diaplikasikan ke cokelat. Pada suatu saat, dia terpikir membuat cokelat yang dihias seperti halnya menghias kue pengantin. Saat itu, di Solo belum ada produk olahan makanan seperti yang digagas Yusak.
"Saat itu bertepatan dengan krisis ekonomi tahun 1998. Anak kedua saya lahir, gaji saya saat itu meski tergolong tinggi, Rp 3 juta per bulan, namun mulai terasa tidak cukup karena krisis," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Awalnya, ia membuat ampyang cokelat yang dititipkan di toko oleh-oleh. Kreasinya kemudian ia lengkapi dengan permen cokelat. Agar tidak membosankan, permennya dihias aneka warna, dan mengambil bentuk-bentuk tokoh kartun.
Produk cokelat yang diberi merek Floren dab Temy yang dititipkan di toko roti, supermarket, dan swalayan, digemari konsumen. Saat valentine misalnya, produk permen atau praline cokelatnya berbentuk hati atau kata-kata puitis, habis diserbu pembeli.
Karyanya kini banyak ditiru pihak lain. Agar tetap bertahan, Yusak terus berkreasi. Terakhir, ia memunculkan cokelat dengan warna yang bergradasi. Banyak teknik seni rupa yang ia terapkan dalam menghias cokelatnya. Kini, dalam sehari dia bisa menghabiskan 40-60 kilogram cokelat.
"Dulu awalnya, banyak orang sinis kepada saya, kok membuat cokelat seperti ini. Setelah produk saya terbukti digemari, banyak yang ikut membuat," ujarnya.
Ke depan, Yusak berobsesi memiliki semacam sekolah yang mengajarkan teknik membuat aneka produk dari cokelat. Ia bermimpi, Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar ketiga dunia, juga dikenal sebagai penghasil produk cokelat seperti Swiss.
Tulisanku seperti termuat di 1 Juni 2010
Labels:
cokelat,
coklat,
floren,
Jawa Tengah,
lolipop,
praline,
solo,
surakarta,
temy,
valentine,
yusak yani
Wayang Orang Sriwedari, Nasibmu Kini
Harsini (38) membersihkan goresan pensil alis yang membentuk taring di bawah sudut kiri dan kanan bibir bawahnya. Dengan handuk kecil yang diberi cairan pembersih wajah, Harsini membersihkan seluruh wajah-nya.
Maka hilanglah riasan untuk mempertegas karakter Mbok Emban Kidan Ganti yang baru saja dimainkannya di atas panggung, Rabu (13/10) malam, di Gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo.
Begitulah aktivitas para pemain wayang orang. Setelah tampil gemerlap di atas panggung di balik kostum yang menawan, kembali menjalani realita kehidupan setelah turun panggung.
"Kalau saya, pagi jadi ibu rumah tangga, malam main wayang orang," tutur Iyeng, pemain wayang orang lainnya.
Di tengah kehidupan seni tradisi yang semakin surut seiring perkembangan zaman, pemain wayang orang ini tetap bertahan.
Setiap malam mereka tetap tampil di atas panggung, memainkan lakon untuk menghibur penonton yang jumlahnya kadang bisa dihitung dengan jari. Itu pun kebanyakan penontonnya sudah berusia lanjut.
Harsini menuturkan mulai bermain wayang orang sejak usia 16 tahun, saat dirinya belum lulus sekolah menengah atas. Keterlibatannya dengan wayang orang dipengaruhi keluarga. Ayahnya, Suwardi, seorang pengrawit, dan ibunya, Sartinah, pemain wayang orang yang kemudian menjadi penata rias panggung. Sementara kakeknya, Mbah Sujud, pemain sekaligus sutradara wayang orang juga di Sriwedari. "Yang saya sukai dari bermain wayang orang adalah bisa memainkan berbagai karakter," kata Harsini.
Kini dengan bobot tubuhnya yang mencapai 80 kilogram, Harsini mengaku lebih sering kebagian peran sebagai Mbok Emban. "Saat masih langsing, 49 kilogram, saya bisa bermain bermacam-macam peran," kata Harsini.
Begitu juga dengan Iyeng. Awalnya ia hanya tahu wayang orang melalui tugas sekolah dan kuliahnya di Sekolah Menengah Kariwitan Indonesia Solo (sekarang SMKN 8 Solo) dan Institut Seni Indonesia Surakarta karena ia mengambil jurusan tari. Setelah melamar dan ditempatkan sebagai pemain wayang orang, Iyeng mulai membiasakan diri.
"Dahulu main wayang orang hanya kalau ada tugas sekolah. Itu pun baca naskah. Tiba-tiba harus main wayang orang tiap hari, harus dandan sendiri. Awalnya demam panggung, tapi sekarang sudah biasa. Dandan juga 10 menit rampung," papar Iyeng.
Beruntung Harsini dan Iyeng telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga bisa berkonsentrasi bermain wayang orang dan tidak perlu memikirkan pemasukan dari penjualan tiket.
Tak hanya Harsini dan Iyeng, saat ini hampir semua kru WO Sriwedari yang jumlahnya sekitar 85 orang berstatus PNS. Menurut pimpinan WO Sriwedari, Diwasa, yang belum PNS tinggal 11-13 orang karena kendala batas usia diangkat PNS.
Meskipun demikian, menurut Harsini, orang-orang ini tetap bertahan bermain di WO Sriwedari, walaupun gaji diperoleh jauh berbeda dengan kru lainnya yang berstatus kepegawaian.
Seluruh kru bahu-membahu menghidupi dan hidup bersama pasang surut WO Sriwedari, mempertahankan wayang orang.
Menurut Diwasa, wayang orang atau wayang wong mulai muncul di Solo tahun 1898 dan berkembang di Prang Wedanan, Pura Mangkunegaran. Saat Paku Buwono X menggelar hajatan, pentas wayang orang dipersembahkan Pura Mangkunegaran.
Sejak tahun 1910, pentas wayang orang oleh Paku Buwono X ditempatkan di Kebon Rojo yang kini dikenal sebagai seni yang diperuntukkan bagi rakyat. Tempat ini kemudian dikenal dengan WO Sriwedari, yang tahun ini memasuki usia satu abad.
Tulisanku seperti termuat di Kompas 16 Oktober 2010
Thursday, 13 November 2014
Gibran Rakabuming Raka, Tukang Katering yang Anak Presiden
Punya kesempatan untuk memanfaatkan sosok sang ayah, namun tidak dilakukan Gibran Rakabuming (25). Ia memilih mengajukan proposal pinjaman modal usaha ke bank tanpa menyebut-nyebut nama ayahnya. Setelah memulai usaha ia juga menolak pesanan yang datang dari jajaran birokrasi yang dipimpin sang ayah yang saat itu menjabat sebagai wali kota Solo.
Anak sulung Joko Widodo atau Jokowi yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta ini lebih suka membangun bisnisnya dari nol dengan tangannya sendiri. Tawaran untuk melanjutkan bisnis ayahnya di bidang ekspor mebel ini ditolaknya karena lebih memilih membangun mimpinya sendiri. Katering menjadi pilihannya setelah melihat peluang besar di bidang ini. “Keluarga saya punya gedung pertemuan namun selama ini tidak ada kateringnya. Ini kesalahan besar karena pendapatan terbesar justru dari katering yang mencapai 50-60 persen dari biaya sebuah acara,” tukas Gibran beberapa waktu lalu.
Tiga bulan setelah lulus kuliah di tahun 2010, ia pun memulai bisnisnya sendiri dengan bendera Chilli Pari Catering. Gibran mencari sendiri modal dengan berbekal pinjaman dari bank. Dari lima bank yang ia ajukan proposal hanya satu yang memberi pinjaman, itupun tidak sampai separuh dari yang ia ajukan. Maklum, saat itu Gibran baru akan terjun ke dunia bisnis. Ia pun tidak aji mumpung meminjam nama sang ayah yang saat itu menjadi orang nomor satu di Kota Solo hanya demi meloloskan proposal. Dana pinjaman yang diperoleh lantas ia manfaatkan untuk membangun kantor yang representatif untuk membangun kepercayaan calon konsumen.
“Katering itu bisnis kepercayaan. Kalau ada restoran baru, orang ramai-ramai datang untuk mencoba makanannya. Sebaliknya dengan katering, orang lebih pilih pemain lama yang sudah diketahui makanan dan pelayanannya,” kata Gibran.
Di kantor untuk menerima tamu, ia sediakan pojok icip-icip. Calon konsumen bisa mencoba rasa masakan kateringnya dan mendiskusikan apakah sudah sesuai keinginan atau masih perlu penyesuaian. Saat pesanan pertama diterima, dapur yang terletak di belakang kantor belum sempurna terbangun. Ia pun belum punya banyak peralatan memasak dan pecah belah, seperti piring sehingga harus menyewa.
Setahun pertama, Gibran belum mendapatkan banyak pesanan akibat sulitnya menembus dominasi pemain-pemain lama di bidang katering yang sudah punya nama. Ia pun putar otak untuk mendongkrak kateringnya. Caranya, Gibran mulai menjual paket resepsi pernikahan lengkap, tidak hanya katering melainkan juga dekorasi, mobil pengantin, undangan, suvenir, hinggamaster of ceremony. Konsep one stop service ini agar konsumen tidak perlu repot mengurus sendiri persiapan resepsinya, hanya perlu datang ke satu tempat dan semua akan diurus oleh timnya. Untuk beberapa pekerjaan, Gibran bekerja sama dengan rekan yang dipercayanya.
Di Kota Solo, Jawa Tengah, jumlah penyelenggara paket pernikahan belum terlalu banyak, tidak seperti katering yang mencapai ratusan usaha. Gibran merasa mampu bersaing dalam soal pelayanan yang profesional dan detil. Ia akan melayani apapun keinginan konsumen, misalnya menu makanan hingga warna taplak demi kepuasan pelanggan. Ia pernah mengganti seragam para pramusajinya untuk menuruti keinginan konsumen. Tempat penyelenggaraannya pun tidak mesti di gedung pertemuan miliknya, tetapi bisa di gedung lain, di rumah, hingga tempat di luar kota. Gibran pernah menyulap lapangan tenis dan tribunnya menjadi tempat resepsi pernikahan di sebuah kota kecil.
Lulusan sarjana dari Jurusan Marketing, Management Development Institute of Singapore ini juga memberi layanan lebih berupa konsultasi gratis, misalnya penyusunan acara. Para pegawainya juga ditekankan untuk mendampingi calon pengantin dan keluarganya dalam setiap tahap persiapan, misalnya menghadiri rapat keluarga atau siraman. Mereka juga diminta datang saat resepsi untuk memberi selamat dan menyalami pengantin dan keluarganya. Gibran pun turun sendiri ke tempat resepsi untuk melihat langsung pelayanan yang diberikan para pegawainya.
Dari sini, ia bisa meningkatkan usaha kateringnya. Lama-kelamaan orang mengetahui makanan dan pelayanan yang diberikan serta menularkannya dari mulut ke mulut. Pesanan kateringnya meningkat 3-4 kali lipat setelah ia menjual paket pernikahan. Paket ini ia tawarkan mulai harga Rp 56 juta untuk 1.000 tamu. Selain pernikahan, ia juga melayani acara lainnya, seperti wisuda, halal bihalal, hingga jamuan makan.
Setelah Jokowi tidak lagi menjabat sebagai wali kota, Gibran baru berani menerima pesanan dari Pemerintah Kota Solo. Sebelumnya ia sengaja tidak mencari pesanan atau menolak pesanan yang masuk dari Pemkot Solo untuk menghindari konflik kepentingan dan kesan negatif di masyarakat. Selain karena pesan sang ayah, Gibran pun dengan kesadaran hati melakukannya. Ia tidak ingin orang menilai usahanya maju karena fasilitas dari ayahnya.
“Rejeki sudah ada yang mengatur, tidak perlu pakai cara-cara seperti itu. Godaan untuk laris atau cepat kaya pasti ada, tetapi untuk apa kaya dengan cara seperti itu, uangnya tidak akan tahan lama. Kalau kita bekerja halal pasti akan ada jalan,” tegas Gibran yang sejak setahun terakhir dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia Kota Solo.
Hampir setiap Sabtu-Minggu, gedung Graha Saba Buana yang dikelola Gibran menyelenggarakan resepsi pernikahan. Sehari bisa 2-3 kali bahkan lebih. Belum lagi resepsi di tempat lain yang juga ia tangani. Di hari lain, gedung ini digunakan untuk wisuda atau pertemuan lainnya. Sebanyak 80 persen katering di gedung ini dilayani oleh Chili Pari. Untuk meningkatkan pendapatan, Gibran berusaha mengedukasi pasar untuk menerapkan pola buffet atau prasmanan saat resepsi. Tradisi yang selama ini berlangsung, penyajian makanan dilakukan dengan diantarkan satu per satu kepada tamu, mulai dari minuman, sop, nasi dan lauk-pauk sebagai menu utama, berakhir dengan es puter.
Kini Gibran membawahi 15 pegawai tetap dan ratusan tenaga tidak tetap yang dipekerjakan pada saat resepsi digelar. Sebagian besar adalah warga di sekitar kantor Chili Pari Catering di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari di pinggiran Kota Solo. Mengaku masih tidak tertarik dengan dunia mebel yang pernah digeluti ayahnya, Gibran bersiap melirik bidang baru sebagai pengembangan bisnisnya.
Saturday, 25 October 2014
LAWEYAN, BELANJA BATIK BONUS WISATA SEJARAH
Sekitar akhir abad ke-19 dan ke-20, sebuah kampung di Solo, Jawa Tengah, terkenalSebagai pusat perdagangan batik Indonesia. Di kampung inilah batik tulis dan cap diproduksi, kemudian didistribusikan ke seluruh Nusantara hingga luar negeri. Tak hanya melahirkan saudagar-saudagar batik yang termasyhur namanya, di kampung ini juga lahir tokoh pergerakan nasional lewat Sarekat Dagang Islam, KH Samanhoedi.
Ketika menapaki jalan-jalan di Kampoeng Batik Laweyan, pengunjung seakan menapak tilas dan mengenang kejayaan batik di daerah yang pernah menjadi tempat bermukim Kyai Ageng Henis, keturunan Raja Brawijaya V dari Majapahit. Di kampung ini banyak gang sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Konon, selain untuk menjaga kerahasiaan usaha batik, tembok-tembok tinggi yang mengelilingi rumah menyerupai benteng itu juga dibangun karena para saudagar berusaha menciptakan daerah ”kekuasaan” di lingkungan mereka. Zaman dulu, pintu-pintu rumah itu jarang dibuka lebar. Bahkan, di antara tembok-tembok tinggi tersebut ada sebuah rumah besar perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa seluas 1.800 meter persegi. Rumah di Jalan Sidoluhur 18 yang dibangun tahun 1915 oleh pemiliknya, Tjokrosoemarto (almarhum), ini masih berdiri megah dengan nuansa keindahan tempo dulu. Hampir setiap sudut rumah, termasuk perabotan, dipenuhi beragam motif batik. Orang Solo menyebut rumah ini sebagai nDalem Tjokrosoemartan. Semakin dalam menyusuri Kampoeng Batik Laweyan, pengunjung bisa menemukan rumah-rumah berarsitektur Jawa dengan atap limasan yang menjadi toko atau gerai batik sekaligus tempat produksi atau gudang batik. Beberapa menambah menambah kaca transparan di bagian depan rumah agar produk-produk batik yang dipajang terlihat dari luar. Deretan papan nama setiap gerai batik pun langsung menyambut pengunjung. Di tiap gang ada petunjuk galeri-galeri batik. Jika datang membawa mobil pribadi, mobil bisa diparkir di dalam kampung batik tersebut. Namun, jika menggunakan bus, bus bisa diparkir di pinggir Jalan Radjiman, kemudian pengunjung berjalan kaki ke Kampoeng Batik Laweyan atau naik becak. Rumah-rumah batik yang biasanya dibuka mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 ini menawarkan berbagai produk batik, mulai dari kain, pakaian, kaus, serta berbagai kerajinan dari batik (seprai, tas, sandal, dan sepatu), hingga perlengkapan interior rumah dari aplikasi batik. Produk ini dibuat dari kain batik berbahan katun, sutra, satin, dorby, paris, atau primis-primissima dengan beragam motif. Biasanya, ketika berbelanja, pengunjung langsung dilayani pemilik rumah batik. Kendati hanya disuguhi air mineral, karena berada di rumah, suasana belanja kadang tidak terasa seperti di toko. Pengunjung sering larut dalam obrolan dengan pemilik rumah batik. Beberapa rumah batik dibuka hingga bagian dalam rumah sehingga pengunjung bisa duduk selonjoran di lantai sambil memilih-milih batik yang akan dibeli. Untuk kenyamanan pengunjung, beberapa butik menggunakan pendingin ruangan. Bagi yang belum pernah melihat pembuatan batik, di sejumlah rumah batik, pengunjung bisa menyaksikan cara membuat batik, bahkan bisa ikut coba-coba memegangcanting (alat untuk membatik) dan menorehkan malam (lilin) ke kain-kain putih yang disediakan pemilik rumah batik. Beberapa menempatkan pekerjanya yang tengah membatik di bagian depan rumah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli. Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan yang menjadi wadah perajin batik di Laweyan menawarkan kursus singkat membatik selama dua jam dengan biaya Rp 30.000 per orang dan peserta minimal 10 orang. Hasil karya dan canting dibawa pulang. Jika menambah Rp 10.000 per orang, pengunjung mendapat makanan dan minuman khas Jawa. Setiap rumah batik biasanya punya ciri khas sendiri-sendiri dalam hal motif dan potongan busana. Ini karena sebagian besar dari mereka memproduksi sendiri kain batik atau busana yang ditawarkan. Umumnya batik yang dijual dari batik tulis dan cap, tetapi beberapa sudah mulai menawarkan printing (tekstil bermotif batik). Harga produk batik pun bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga jutaan rupiah, tergantung dari bahannya. Jika terbuat dari batik tulis, apalagi yang menggunakan bahan pewarna alami, harga sepotong kain batik tulis bisa di atas Rp 500.000. Untuk pembayaran, bagi yang tidak membawa uang tunai cukup, jangan khawatir. Beberapa rumah batik sudah menyiapkan alat pembayaran elektronik untuk kartu debet atau kartu kredit. Namun, jumlahnya belum begitu banyak. Untuk melayani para pembeli, satu-dua galeri batik di Laweyan mulai memberanikan membuka pelayanan hingga 24 jam, terutama di Jalan Radjiman, seperti Batik Beteng dan Batik Omah Laweyan. Biasanya toko dibuka 07.30-22.00. Namun, di luar jam itu, pembeli yang datang dibukakan pintu oleh pramuniaga yang berjaga. Toko-toko ini biasanya berupaya jemput bola dan melihat peluang seringnya tamu kesulitan memperoleh batik di luar ”jam normal”. Pelayanan 24 jam terutama bagi tamu luar kota yang ingin beli oleh-oleh batik, tetapi waktunya terbatas karena mengikuti acara seharian dan harus pulang keesokan harinya. Bahkan, ada yang memberi layanan antar jemput gratis bagi tamu dari penginapan ke rumah batiknya. Jika masih ada waktu, beberapa situs sejarah juga menanti dikunjungi, antara lain Masjid Laweyan yang menjadi satu kompleks dengan makam Kyai Ageng Henis dan Kyai Ageng Beluk, situs rumah dan makam KH Samanhoedi (pendiri Sarekat Dagang Islam), situs Bandar Kabanaran, Langgar Merdeka, serta Langgar Laweyan. Kuliner lokal, seperti apem dan leker khas Laweyan, juga layak dibawa sebagai oleh-oleh. Jika ingin semakin menyelami atmosfer Laweyan, beberapa hotel dan penginapan siap menaungi tidur Anda, misalnya Roemahku dan Hotel Laweyan. |
Labels:
apem,
Bandar Kabanaran,
batik,
Hotel Laweyan,
Jawa Tengah,
Kampoeng Batik Laweyan,
KH Samanhoedi,
kuliner,
Kyai Ageng Henis,
Langgar Merdeka,
Laweyan,
leker,
Roemahkoe,
Sarekat Dagang Islam,
solo,
wisata
SENSASI RASA ES DAWET TELASIH PASAR GEDE
Seorang perempuan muda, mengenakan kaus tank-top ungu, mendekati meja yang di atasnya terdapat bebe- rapa panci dan baskom. Ia memesan empat bungkus es dawet kepada sang penjual. "Tak usah pakai es, Bu. Mau saya masukkan ke kulkas. Mau saya bawa ke Yogyakarta," katanya, beberapa saat lalu.
Seorang teman juga bercerita pernah membawa 10 bungkus dawet ini sebagai oleh-oleh bagi teman-teman yang ditemuinya di Bentara Budaya Jakarta.
Begitu terkenalnya es dawet ini sehingga tak heran orang membawa sebagai oleh-oleh hingga ke luar kota. Orang menyebut es dawet telasih, karena tidak hanya berisi dawet (cendol), tetapi juga diberi telasih atau selasih yang rasanya kenyes-kenyes dingin saat digigit.
Penjual es dawet telasih berada di salah satu sudut Pasar Gede, Solo. Sejarah es dawet telasih dimulai puluhan tahun lalu hingga kini mencapai generasi keempat, yang pengelolaannya kini dipegang Tulus Subekti atau Utik, yang mewarisi usaha ini ibunya, Dermi.
"Yang memulai mbahnya ibu saya. Sekarang yang berjualan saya dibantu dua orang, karena ibu tidak kuat. Beliau hanya membuat di rumah dibantu tiga orang dan kakak saya," jelas Utik, sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Es dawet telasih tidak hanya berisi dawet, tetapi juga dilengkapi jenang atau bubur sumsum, ketan hitam, tape ketan, dan irisan nangka. Sajian bahan tadi diguyur air gula putih dan santan. Rasanya khas karena diberi selasih dan manis hingga ke sendokan terakhir. Agar lebih segar, sajian es dawet telasih diberi es batu.
Cendol pada es dawet telasih dibuat dari tepung beras yang diberi pewarna alami dari daun suji, sehingga berwarna hijau muda. Bentuknya sengaja tidak sebesar yang lainnya sehingga mampu menyerap manis air gula. Jenang sumsum yang gurih dan ketan hitam yang manis semakin melengkapi variasi rasa dawet telasih.
Es dawet telasih sejak awal dijual di salah satu sudut Pasar Gede, dan tidak pernah pindah. Pengunjung bisa menikmati dawet itu di situ sambil duduk di bangku panjang yang disediakan. Pembeli juga bisa memesan variasi kesukaannya, seperti tak pakai tape atau santan, agar lebih awet jika dibawa perjalanan jauh. Utik bercerita, pembelinya sering membawa es dawet telasih ke luar kota.
"Kami juga sering diminta pesanan dari luar kota untuk berbagai acara, seperti hajatan, pernikahan, dan lainnya. Kalau tempatnya jauh, kami membuat dawet di sana. Kalau dekat, kami membawanya dari Solo," tuturnya.
Untuk mempertahankan cita rasa es dawet telasih, Utik menggunakan bahan tradisional tanpa pengawet. Hasilnya, kini dalam sehari dia mampu menjual hingga 400 mangkok dawet dengan harga per porsi Rp 2.500. Saat Lebaran, sehari ia bisa menjual 1.000 mangkok.
Subscribe to:
Posts (Atom)



