Showing posts with label surakarta. Show all posts
Showing posts with label surakarta. Show all posts
Wednesday, 19 November 2014
AYAH SERING MENGAJAK KAMI MERAMPOK...
Awal pekan ini, masyarakat Surakarta dikejutkan dengan tertangkapnya gembong perampok yang beroperasi di berbagai daerah di Jawa dan Bali, yang selama ini membuat resah masyarakat. Tersangka perampok ini dikenal sebagai spesialis merampok emas dan nasabah bank, yang tidak segan-segan membunuh korban atau orang yang menghalanginya. Gembong perampok itu adalah Sugianto (60) alias Sugi alias Pakdhe alias Pake. Sugi ditangkap di rumah kontrakannya di Jalan Kendal Growong, Muntilan, Magelang, Jumat (25/3). Penangkapan ini berdasarkan informasi dari anak perempuan pertamanya, Ita Rosita, yang sehari sebelumnya ditangkap di rumahnya di Kediri, Jawa Timur. Menurut Kepala Kepolisian Wilayah Surakarta Komisaris Besar Abdul Madjid, Sugi kerap mengajak anak-anak perempuannya untuk membantunya dalam beraksi. Sang anak disuruhnya mengantar gembong perampok itu ke lokasi perampokan. Ita yang ditemui di tahanan Kepolisian Wilayah Surakarta, Rabu (30/3/2005), mengaku, ia pernah tiga kali disuruh mengantarkan bapaknya ke tiga tempat yang kemudian diketahui menjadi lokasi perampokan yang menghebohkan, yakni Goro Assalaam, Sragen, dan PKU Muhammadiyah. Dengan demikian, keterangan Ita ini menjadi pintu bagi kepolisian untuk mengungkap dua kasus besar yang hingga kini masih misterius, yakni perampokan di dekat PKU dan Goro Assalaam beberapa tahun lalu yang menimbulkan korban tewas. Kasus perampokan yang berlangsung di PKU Muhammadiyah menewaskan sopir kantor PDAM yang membawa gaji karyawan serta tiga orang lainnya, termasuk petugas polisi yang mengawalnya. Diperkirakan, pelakunya adalah empat perampok yang menggunakan sepeda motor. Menurut Ita, saat itu ia hanya disuruh mengendarai mobil Suzuki Espass untuk mengantar Sugi dan seorang rekannya ke PKU. "Habis itu saya tidak tahu bapak ke mana, dia terus dijemput oleh temannya dengan sepeda motor," kata Ita. Sugi memiliki lima anak yang seluruhnya perempuan. Ita adalah salah satu anaknya yang sering dimanfaatkannya saat beraksi. Menurut Ita yang berpenampilan gempal dengan rambut sebatas leher dan mempunyai seorang anak berusia delapan tahun, ia kadang-kadang pulang dari Kediri untuk menengok orangtuanya yang kala itu masih mengontrak di Colomadu, Sukoharjo. Ita sendiri sejak kecil tinggal dengan neneknya di Kediri. Empat adiknya yang lain tinggal bersama orangtua mereka. "Saat saya pulang itu, bapak menyuruh saya untuk mengantarnya," kata Ita sambil menatap kakinya yang pada bagian ujungnya dihiasi cat kuku berwarna gelap, Rabu kemarin. Menurut Ita, selama ini bapaknya ia kenal berprofesi sebagai makelar motor. Sedang sang ibu menjalankan warung kelontong dan kini masih tinggal di rumah kontrakannya di Muntilan yang ditempati sejak dua tahun lalu. "Orangtua tidak punya rumah, jadi sering pindah-pindah kontrakan," jelasnya. Ita sering menyaksikan, bapaknya dikunjungi beberapa orang temannya. Pada beberapa kesempatan, mereka akan keluar bersama-sama dalam waktu yang lama. "Mereka pergi siang hari, nggak tahu kemana," katanya. Ditambahkannya, dia tidak pernah meminta uang bagian kepada ayahnya. "Saya nggak pernah minta bagian. Saya kalau minta uang sama ibu, Rp 200.000 atau Rp 300.000 buat jajan," jelasnya. *** ITA mengaku menyesal dan malu terhadap kasus ini. Ia mengkhawatirkan nasib anaknya yang tinggal di Kediri mengingat ia juga sudah berpisah dari suami beberapa tahun lalu. Selain melibatkan Ita, Sugi juga mengajak salah satu menantunya, Dodi, yang beberapa tahun lalu tewas dikeroyok massa usai tertangkap merampok di sebuah daerah di Jawa Timur. Istri Dodi, Vita, kini tinggal bersama Ita. Dari hasil penyidikan polisi, ada 12 daerah yang dipastikan pernah dijadikan Sugi sebagai sasaran perampokan berdarah dingin, antara lain di Sragen, Karanganyar, Solo, Kediri, Tulungagung, Probolinggo, Wonogiri, Magelang, Yogyakarta, Kendal, dan Pekalongan. Beberapa di antaranya menyebabkan korban tewas. Sugi sendiri berpenampilan tenang dan cenderung murah senyum dengan hiasan rambut yang mulai memutih. Ia jarang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, termasuk mengapa tega melibatkan anaknya dalam aksi perampokan yang didalanginya. Namun, saat seorang petugas kepolisian mendatanginya untuk memotretnya, ia memasang wajah dengan senyum terkembang. Tidak ada tanda penyesalan atau tertekan di wajahnya. Ia sempat menitipkan satu botol berisi satu liter air mineral dingin agar diberikan kepada Ita. Sugi saat ini berada dalam tahanan Polwil Surakarta dan berada satu ruangan bersama Timotius Tri Sabarno, tersangka penipuan dan penggelapan uang miliaran rupiah. Hingga kini, Sugi masih diperiksa intensif. Dalam keterangannya kepada penyidik, Sugi mengakui tiga kasus perampokan yang pernah dilakukannya secara langsung, yakni perampokan di sebuah penggilingan padi di Masaran, Sragen tahun 2003 dengan kerugian Rp 160 juta dan seorang korban tewas, perampokan bersenjata di dekat PT Puspitasari di Ceper, Klaten dengan kerugian Rp 44 juta, dan perampokan di Pasar Bunder, Sragen, dengan kerugian Rp 33 juta. Kepala Polwil Surakarta mengatakan, Sugi adalah bos Herlambang, kelompok perampok yang sering beraksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta baru saja ditangkap Polda Jawa Tengah, pekan lalu, di Sukoharjo. Selain menangkap Sugi dan Ita, Polwil Surakarta juga telah menangkap Jiing di Salatiga yang masih terkait erat dengan kelompok Sugi. Sugi juga diperkirakan terkait dengan kelompok Taufik dan Promek di Jawa Timur. Sejauh ini, Sugi mengaku menjadi konseptor dalam setiap aksi. Ia merencanakan, menentukan sasaran, dan modus. Hanya tiga tempat yang ia akui turun langsung ikut merampok, yakni dua tempat di Sragen dan satu di Klaten. Dengan tertangkapnya Sugi, seperti disampaikan Kepala Kepolisian Polisi Daerah Jawa Tengah Irjen Chaerul Rasjid, paling tidak 20-25 kasus perampokan besar yang pernah terjadi akan bisa terungkap. Kita tunggu hasil penyidikan polisi selanjutnya. Bila memang Sugianto terlibat sedikitnya 25 kasus perampokan, polisi kali ini benar-benar mendapat perampok kelas kakap!
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 31 Maret 2005
BESTIK LIDAH YANG BIKIN GOYANG LIDAH
Rinai hujan baru saja membasahi jalanan kota Solo, Sabtu (18/3) petang. Rasanya itu tidak menghalangi niat mencari tempat yang menyajikan masakan olahan lidah sapi kegemaran kami. Tempat itu kami temukan di Jalan Dokter Rajiman.
Harjo Bestik. Tulisan berwarna merah pada spanduk putih di bagian depan warung kaki lima itu sepintas biasa saja, tidak ada yang istimewa. Bagi sebagian besar penggemar steak, warung ini mungkin tak ubahnya warung steak kaki lima yang menjamur di kota-kota besar.
Namun, sekali menyimak daftar menu yang ditawarkan Harjo Bestik, niscaya kita akan tercengang. Aneka menu bestik seperti bestik telon yang terdiri dari tiga jenis daging sesuai pilihan pembeli, bestik uritan (calon telur ayam), bestik brutu, dan bestik dadar lidah adalah sejumlah menu bestik yang ditawarkan. Sungguh tawaran yang tidak biasa.
Malam itu kami memesan masing-masing seporsi bestik campur dan bestik dadar lidah, serta dua piring nasi putih. Begitulah adat di warung makan kaki lima ini, makan bestik ditemani nasi putih. Tidak lupa segelas es jeruk dan wedang cokelat turut dipesan.
Lebih kurang 30 menit pesanan kami tiba. Kepulan asap menebar harum aroma kuah bestik yang segera merangsang pencernaan kami. Sekali menyendok bestik ini rasanya sukar berhenti karena keempukan daging maupun lidah sapi yang berpadu dengan kesegaran kuah bestiknya.
"Sejak dahulu, kakek saya, Mbah Harjo, pendiri warung ini, sudah memasak bestik seperti ini. Bestik dengan kuah banyak atau nyemek dalam istilah orang Jawa," ujar Mujiyati (40), generasi ketiga Harjo Bestik, saat ditemui Sabtu malam itu.
Bukan hanya kecakapan Mbah Harjo yang membuat bestik ini lekat dengan lidah orang Jawa, tetapi juga keahlian Mbah Harjo dalam mengkreasikan aneka organ tubuh ayam maupun sapi untuk diolah dalam kuah bestiknya.
"Elek-elekan"
Satu porsi bestik lidah terdiri atas lima potongan lidah sapi bersanding dengan irisan kentang, wortel, selada hijau, tomat, acar timun, dan mayones atau moster. Kuah kecoklatan yang meredam lidah dan aneka sayuran itu diolah dari tumisan mentega, bawang merah, bawang bombai, ditambah kuah kaldu ayam, kecap manis dan asin, garam, serta merica.
Untuk bestik campur, penyajiannya hampir serupa denganbestik lidah hanya ditambah daging sapi cacah. Sementara untuk bestik dadar lidah, pembeli dapat menikmati potongan lidah sapi yang terbungkus dalam telur dadar goreng terendam dalam kuah bestik.
Keempukan lidah sapi di Harjo Bestik tidak terlepas dari lamanya waktu pemasakan lidah. Mujiyati senantiasa merebus lidah sapi selama empat jam agar empuk. Saat akan dimasak sebagai bestik, lidah itu kemudian dipotong-potong kecil dan dicampur dengan tumisan bumbu kuah bestik.
"Menu favorit pengunjung adalah bestik lidah. Akan tetapi, kami juga masih memiliki menu favorit lain seperti risoles kuah, elek- elekan, dan bakmi," ujar Mujiyati.
Mendengar menu elek-elekan (bahasa Jawa dari kata jelek-jelekan), kening kami sempat berkerut. Rasa-rasanya dari sekian menu yang tercantum dalam daftar menu Harjo Bestik, nama ini tidak kami temui. Setelah kami tanyakan menu ini kepada Mujiyati, sontak kami langsung tertawa mendengar penjelasannya.
Menurut Mujiyati, elek-elekan adalah menu yang diciptakan dari bonggol lidah sapi yang tidak terpakai di bestik. Awalnya, bonggol- bonggol lidah sapi itu digoreng Mujiyati untuk disantapnya sendiri bersama sambal kecap atau sambal bawang ditemani nasi putih.
Ia tidak pernah menawari menu ini secara terang-terangan karena dinilai kurang layak disandingkan dengan menu bestik di warungnya. Suatu ketika, seorang pelanggan melihat gorengan bonggol lidah sapi itu dan tertarik mencoba.
"Sejak saat itu, jika pelanggan itu datang, ia tak lupa memesan elek-elekan lengkap dengan sambal kecapnya. Lama kelamaan pelanggan yang lain tahu tentang elek-elekan dan turut memesan," tuturnya.
Meski elek-elekan sudah punya banyak penggemar, Mujiyati tetap tidak mau mencantumkan menu itu dalam daftar menu Harjo Bestik. Baginya, promosi elek-elekan cukup dari mulut ke mulut saja.
Bercampur harum bunga
Menyantap bestik di warung kaki lima di Jalan Dokter Rajiman dan dekat dengan Pasar Kembang ini terasa istimewa. Kuah bestik jowo sesekali berpadu dengan harum bunga yang dijual di Pasar Kembang. Suasana jalanan dan wajah kota Solo yang tak pernah tidur juga bisa dinikmati di warung yang telah berusia lebih kurang 60 tahun ini, yang menurut Mujiyati dimulai Mbah Harjo sejak menjelang perang kemerdekaan Indonesia.
Untuk menikmati aneka bestik jawa khas Solo ini cukup membayar Rp 9.000-Rp 13.000 per porsi. Warung bestik kaki lima ini buka setiap hari dari pukul 18.00 hingga 00.30. Selain bestik, juga ditawarkan menu lain seperti bakmi, kamar bola, nasi goreng krukup, dan banyak menu lain.
Warung ini dikunjungi orang dari berbagai lapisan. Mereka menikmati santapan menu bestik favoritnya di atas bangku kayu panjang sambil menikmati suasana malam kota Solo.
Tidak terasa, jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 21.30. Dengan berat hati, tetapi perut kenyang, kami meninggalkan Harjo Bestik beserta segala suasana kekhasan warung kaki limanya. Tentu saja, sebagai penggemar lidah sapi, terbit rasa mengganjal di hati kami karena belum mencicipi elek-elekan. Suatu waktu kami pasti kembali....
Tulisanku dan Komang Arianti seperti termuat di Kompas, 2 April 2006
Harjo Bestik. Tulisan berwarna merah pada spanduk putih di bagian depan warung kaki lima itu sepintas biasa saja, tidak ada yang istimewa. Bagi sebagian besar penggemar steak, warung ini mungkin tak ubahnya warung steak kaki lima yang menjamur di kota-kota besar.
Namun, sekali menyimak daftar menu yang ditawarkan Harjo Bestik, niscaya kita akan tercengang. Aneka menu bestik seperti bestik telon yang terdiri dari tiga jenis daging sesuai pilihan pembeli, bestik uritan (calon telur ayam), bestik brutu, dan bestik dadar lidah adalah sejumlah menu bestik yang ditawarkan. Sungguh tawaran yang tidak biasa.
Malam itu kami memesan masing-masing seporsi bestik campur dan bestik dadar lidah, serta dua piring nasi putih. Begitulah adat di warung makan kaki lima ini, makan bestik ditemani nasi putih. Tidak lupa segelas es jeruk dan wedang cokelat turut dipesan.
Lebih kurang 30 menit pesanan kami tiba. Kepulan asap menebar harum aroma kuah bestik yang segera merangsang pencernaan kami. Sekali menyendok bestik ini rasanya sukar berhenti karena keempukan daging maupun lidah sapi yang berpadu dengan kesegaran kuah bestiknya.
"Sejak dahulu, kakek saya, Mbah Harjo, pendiri warung ini, sudah memasak bestik seperti ini. Bestik dengan kuah banyak atau nyemek dalam istilah orang Jawa," ujar Mujiyati (40), generasi ketiga Harjo Bestik, saat ditemui Sabtu malam itu.
Bukan hanya kecakapan Mbah Harjo yang membuat bestik ini lekat dengan lidah orang Jawa, tetapi juga keahlian Mbah Harjo dalam mengkreasikan aneka organ tubuh ayam maupun sapi untuk diolah dalam kuah bestiknya.
"Elek-elekan"
Satu porsi bestik lidah terdiri atas lima potongan lidah sapi bersanding dengan irisan kentang, wortel, selada hijau, tomat, acar timun, dan mayones atau moster. Kuah kecoklatan yang meredam lidah dan aneka sayuran itu diolah dari tumisan mentega, bawang merah, bawang bombai, ditambah kuah kaldu ayam, kecap manis dan asin, garam, serta merica.
Untuk bestik campur, penyajiannya hampir serupa denganbestik lidah hanya ditambah daging sapi cacah. Sementara untuk bestik dadar lidah, pembeli dapat menikmati potongan lidah sapi yang terbungkus dalam telur dadar goreng terendam dalam kuah bestik.
Keempukan lidah sapi di Harjo Bestik tidak terlepas dari lamanya waktu pemasakan lidah. Mujiyati senantiasa merebus lidah sapi selama empat jam agar empuk. Saat akan dimasak sebagai bestik, lidah itu kemudian dipotong-potong kecil dan dicampur dengan tumisan bumbu kuah bestik.
"Menu favorit pengunjung adalah bestik lidah. Akan tetapi, kami juga masih memiliki menu favorit lain seperti risoles kuah, elek- elekan, dan bakmi," ujar Mujiyati.
Mendengar menu elek-elekan (bahasa Jawa dari kata jelek-jelekan), kening kami sempat berkerut. Rasa-rasanya dari sekian menu yang tercantum dalam daftar menu Harjo Bestik, nama ini tidak kami temui. Setelah kami tanyakan menu ini kepada Mujiyati, sontak kami langsung tertawa mendengar penjelasannya.
Menurut Mujiyati, elek-elekan adalah menu yang diciptakan dari bonggol lidah sapi yang tidak terpakai di bestik. Awalnya, bonggol- bonggol lidah sapi itu digoreng Mujiyati untuk disantapnya sendiri bersama sambal kecap atau sambal bawang ditemani nasi putih.
Ia tidak pernah menawari menu ini secara terang-terangan karena dinilai kurang layak disandingkan dengan menu bestik di warungnya. Suatu ketika, seorang pelanggan melihat gorengan bonggol lidah sapi itu dan tertarik mencoba.
"Sejak saat itu, jika pelanggan itu datang, ia tak lupa memesan elek-elekan lengkap dengan sambal kecapnya. Lama kelamaan pelanggan yang lain tahu tentang elek-elekan dan turut memesan," tuturnya.
Meski elek-elekan sudah punya banyak penggemar, Mujiyati tetap tidak mau mencantumkan menu itu dalam daftar menu Harjo Bestik. Baginya, promosi elek-elekan cukup dari mulut ke mulut saja.
Bercampur harum bunga
Menyantap bestik di warung kaki lima di Jalan Dokter Rajiman dan dekat dengan Pasar Kembang ini terasa istimewa. Kuah bestik jowo sesekali berpadu dengan harum bunga yang dijual di Pasar Kembang. Suasana jalanan dan wajah kota Solo yang tak pernah tidur juga bisa dinikmati di warung yang telah berusia lebih kurang 60 tahun ini, yang menurut Mujiyati dimulai Mbah Harjo sejak menjelang perang kemerdekaan Indonesia.
Untuk menikmati aneka bestik jawa khas Solo ini cukup membayar Rp 9.000-Rp 13.000 per porsi. Warung bestik kaki lima ini buka setiap hari dari pukul 18.00 hingga 00.30. Selain bestik, juga ditawarkan menu lain seperti bakmi, kamar bola, nasi goreng krukup, dan banyak menu lain.
Warung ini dikunjungi orang dari berbagai lapisan. Mereka menikmati santapan menu bestik favoritnya di atas bangku kayu panjang sambil menikmati suasana malam kota Solo.
Tidak terasa, jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 21.30. Dengan berat hati, tetapi perut kenyang, kami meninggalkan Harjo Bestik beserta segala suasana kekhasan warung kaki limanya. Tentu saja, sebagai penggemar lidah sapi, terbit rasa mengganjal di hati kami karena belum mencicipi elek-elekan. Suatu waktu kami pasti kembali....
Tulisanku dan Komang Arianti seperti termuat di Kompas, 2 April 2006
INDRAWATI DAN KREASI PERCA BATIK
Perca batik adalah limbah. Namun, di tangan Indarwati (34) limbah itu menjadi produk bernilai ekonomi dan mengandung kreativitas tinggi. Indarwati memproduksi sandal, dompet tangan, tas, pembungkus laptop, dan dasi dari perca kain batik. Berhiaskan manik-manik, kain yang semula teronggok di sudut rumah menjelma sebagai produk yang dijajakan di hotel hingga ke luar negeri.
Indarwati mulai menggeluti usaha itu tahun 1999 setelah sebelumnya membantu usaha sang ayah, Abdul Gani, yang membuat sandal batik sejak penghujung tahun 1989. Semula, Abdul Gani membuat sandal dan selop dari kulit sintetis pada tahun 1970-an. Atas permintaan pelanggan, Abdul Gani dibantu Indarwati mulai membuat sandal yang dibungkus kain perca batik. Usaha itu lebih prospektif dibanding usaha sebelumnya yang berbahan baku kulit sintetis.
"Produk sandal batik ini peka zaman, selalu punya pasar," kata Indarwati yang tengah hamil anak kedua, di rumahnya di Kampung Joyodi-ningratan, Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, April lalu.
Indarwati yang semula membantu sang ayah memutuskan terjun total ke dunia produk dari perca batik. Dia membuat dompet, tas, dasi, dan tas pembungkus laptop dari perca batik. Dia memulai usaha itu tahun 1999 setelah memiliki anak pertama. Sebelumnya, dia pernah menjajal posisi tenaga pemasaran sebuah pabrik karung plastik selama tiga tahun.
Selain memberi penghasilan lebih besar, bekerja di rumah membuatnya tetap dapat mengasuh sang buah hati yang kini berusia 10 tahun. Indarwati dan ayahnya kini bermitra dengan 12 orang yang mengerjakan produknya dari rumah masing-masing.
Setiap bulan, Indarwati dan ayahnya menghasilkan 3.000-5.000 sandal dan 300-500 dompet. Pemasaran produk di Pasar Klewer oleh sang ibu, Supini. Sebagian besar produk mereka pesanan pelanggan, antara lain hotel di Lembang, Jawa Barat.
Produk sandalnya juga pernah menjadi suvenir untuk peserta Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia dan Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Solo. Sandal batik itu kemudian diekspor ke beberapa negara oleh pembelinya.
Harga sandal tersebut Rp 7.500-Rp 12.500 per buah bergantung tingkat kerumitan model. Harga dompet Rp 4.000-Rp 40.000 per buah. Sementara harga dasi Rp 35.000 per buah.
Bahan untuk dompet dan dasi adalah kain batik tulis sutra ATBM (alat tenun bukan mesin), sedangkan sandal dan lainnya dari kain batik nontulis.
Seorang pengepul perca batik rutin menyetor bahan baku kepada Indarwati yang membelinya seharga Rp 10.000 per kilogram. Sementara harga kain perca batik tulis sutra ATBM Rp 40.000 per kilogram.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 12 Mei 2009
HERU PEMBUAT MAINAN ANAK RAMAH LINGKUNGAN
Herumanto Moektijono (44) tidak pernah menduga jalan hidup akan membawanya seperti sekarang ini, menekuni dunia mainan anak-anak. Herumanto, yang akrab dipanggil Heru, awalnya membuka usaha desain interior. Kliennya banyak meminta desain interior untuk kamar anak. Dari sini ia melihat, bidang ini belum banyak digarap dengan serius.
"Padahal, anak-anak peka keindahan. Namun kerap anak-anak hanya diberi penataan yang asal-asalan," kata Herumanto di bengkel kerjanya di Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Senin (18/5).
Pada tahun 2007 ia memberanikan diri mengikuti pameran di Malioboro Mall, Yogyakarta, dengan mebel dan mainan anak-anak produksinya. Animo yang besar, terutama pada mainan, membuatnya memutuskan menggeluti dunia mainan anak lebih serius.
Produknya yang halus dan inovatif membuat pasar merespons positif. Kini tak kurang dari ratusan jenis mainan anak-anak diproduksinya. Produksinya dibagi menjadi tiga macam, furnitur, aksesori ruangan, dan mainan anak, seperti meja, kursi, teka-teki (puzzle), baju mainan, dan menara kotak lingkar. Tiap bulan ia mengeluarkan dua-lima desain baru.
Tahun 2008, saat penyelenggaraan Konferensi Kota-kota Pusaka Dunia, Heru terinspirasi untuk mengangkat warisan budaya lokal dalam mainan anak karyanya. Jadilah motif batik, keris, dan wayang menjadi tema mainan karyanya, seperti dalam puzzle. Heru mengutamakan orisinalitas dalam karyanya.
"Tidak ada karakter luar negeri, seperti Disney dalam mainan saya. Bukan tidak baik tetapi saya lebih suka mengajak anak mengenali alam dan budaya lokal, misalnya dengan bentuk kepik, capung atau rajamala," kata Heru, yang juga hobi fotografi.
Keasyikan
Lama-lama Heru menemukan keasyikan dalam dunia ini dan kini justru lebih berfokus pada produksi mainan anak-anak meski tidak meninggalkan desain interior. Furnitur hanya dibuat jika ada pesanan.
"Kalau mau cari uang, desain interior memberi materi lebih besar. Namun dari segi kepuasan, saya lebih senang membuat mainan anak-anak karena menantang kreativitas dan bebas berkreasi. Dalam desain interior saya mengikuti kemauan klien," kata Heru.
Kualitas mainan anaknya selain halus dan rapi juga menggunakan cat tak beracun (nontoxic) agar tidak membahayakan anak. Kini Heru tengah meneliti penggunaan batok kelapa, rotan, dan daun-daunan sebagai bahan baku mainan untuk melengkapi karyanya yang selama ini dibuat dari kayu lapis jenis medium density fiberglass.
Mainan karya Heru dibandrol harga Rp 9.000-Rp 150.000, sedangkan furniturnya satu set mencapai Rp 5 juta. Produknya bisa ditemui di Solo Square dan Solo Grand Mall dengan label Cil-Cil, selain di websitenya di www.cil-cil.com.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 2 Juni 2009.
EDI SI KREATOR WAYANG BATIK
Terinspirasi oleh Solo Batik Carnival atau SBC tahun 2008, Ami Joyo Warso Edi menciptakan wayang batik carnival. Wayang ini seperti wayang golek, tetapi menggunakan kostum seperti yang digunakan peserta SBC, khas kostum karnaval yang terkesan megah.
Padahal Edi, panggilan akrabnya, hanya memanfaatkan perca batik. Dibungkus kreativitas dan keuletan yang tinggi, jadilah produk wayang yang tak kalah megah seperti halnya penampilan peserta karnaval.
Edi sebenarnya bergerak di bidang jasa konstruksi yang lantas mengembangkan usaha furnitur antik. Persentuhannya dengan barang-barang antik mengasah naluri seninya. Dibantu beberapa asisten, Edi menyalurkan ide dan kreativitasnya dalam menciptakan wayang batik carnival.
"Dua minggu sebelum SBC tahun 2008, saya membuat wayang batik carnival. Bermodal foto-foto di media tentang ekspos rencana SBC, jadilah tiga buah wayang," kata Edi saat dijumpai di rumahnya di Jalan Lesanpuro, Jamsaren, Solo, beberapa waktu lalu.
Tiga karyanya yang dipamerkan di ajang Srawung Batik yang digelar bersamaan dengan perhelatan SBC 2008 mendapat apresiasi positif, baik dari panitia maupun Wali Kota Solo Joko Widodo. Edi pun semakin mantap berkarya. Pernah dia memajang foto sebuah karyanya di situs internet seorang teman. Seorang pembaca dari Eropa menyatakan minatnya memesan 60.000 buah wayang karnaval tersebut.
"Dia pikir itu produk massal seperti boneka Barbie. Saya sendiri tidak mampu memenuhi pesanan itu karena ini produk kerajinan tangan, bukan mesin, sehingga sulit untuk mengejar jumlah banyak dalam waktu singkat," kata Edi.
Kini, secara rutin Edi mengenalkan produknya di Night Market Ngarsapura yang buka setiap malam Minggu di depan kompleks Pura Mangkunegaran, Solo. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pernah membeli sebuah wayang batik carnivalnya yang menggunakan kostum batik bernuansa putih. "Sejak itu, banyak orang minta dibuatkan wayang serupa," kata ayah tiga anak ini sambil tertawa.
Beberapa tamu resmi Kota Solo dari berbagai negara yang diajak wali kota mengunjungi Night Market Ngarsapura juga memboyong karya Edi ke negara masing-masing.
Total, Edi telah membuat 30 karya wayang batik carnival yang dibuat dari bahan baku kayu sengon laut, pule, atau trebelo puso. Saat ini dia tengah mencoba membuat figur aksi (action figure) dari bahan akrilik dengan kostum batik carnival atau tokoh pewayangan. Mimpinya adalah anak-anak Indonesia punya action figure-nya sendiri, tidak hanya tokoh Naruto atau tokoh komik Marvel dari luar negeri.
Edi telah membuat action figure tokoh punakawan, gatot kaca, arjuna, dan werkudara. Dia juga membuat kaus bergambar wayang batik carnival. Ide seakan berdesakan keluar dari kepalanya. Ke depan, bukan hanya batik, tetapi juga kain-kain tradisional yang ingin dikenakannya di wayang dan action figure kreasinya. Namun, satu idealisme tetap Edi pegang, yakni menggunakan bahan daur ulang.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 7 Juli 2009
SEPATU DRUMBAND PAK DOLIT
Membuat sepatu adalah keahlian satu-satunya Dolit Widodo (55). Keterampilan ini diwarisi dari sang ayah, mendiang Harjo "Londo" yang pembuat sepatu dan penyanyi keroncong. Berbeda dengan ayahnya, Dolit memilih fokus pada pembuatan sepatu yang dipakai pemain dan mayoret drumband/marching band.
Kini, sebanyak 75 persen sepatu produksinya yang diberi nama "Dolita" merupakan sepatu drumband jenis boot. Sisanya, sepatu pesanan pelanggan untuk keperluan harian atau pesta.
Awalnya, Dolit hanya bantu ayahnya, namun sejak tahun 1982, dia memilih mandiri. Usahanya bergerak maju karena tidak banyak pesaing. Baru sejak lima tahun lalu, bermunculan perajin baru dengan spesialisasi sepatu drumband. Kini ada 10 perajin sepatu drumband di Kota Solo. Jika musim lomba drumband, jumlah perajin lebih banyak lagi karena muncul perajin musiman.
"Selama masih ada kelompok drumband dan lomba drumband, kami masih dapat bertahan," kata Dolit, Senin (29/3).
Kebanyakan konsumennya adalah siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Jarang siswa SMP dan SMA yang menggeluti kegiatan drumband saat ini. Selain sepatu, Dolit juga melayani pembuatan kostum drumband yang dimulai sejak 2 tahun lalu. Sang istri, Endang Sunarmi, yang menangani pesanan kostum. Ini dikerjakan penjahit yang merupakan tetangganya sendiri.
"Banyak pelanggan inginnya pesan sepatu sekaligus pesan kostum di satu tempat," kata ayah tujuh anak ini saat ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat produksi sepatu di Kampung Sangkrah, Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Kota Solo.
Dolit dibantu 2-3 pekerja. Di musim kompetisi drumband, pekerjanya bisa menjadi lima orang. Harga satu paket, terdiri atas sepatu, kostum, dan topi drumband kualitas sedang Rp 125.000, untuk kualitas terbaik mencapai Rp 450.000. Sedangkan sepatu pesanan dimulai dari harga Rp 60.000 per pasang bergantung pada bahan dan tingkat kerumitan pembuatan. Ia mengeluhkan harga bahan baku yang terus meningkat.
Selain di Solo, sepatu Dolit juga dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, dan Sulawesi. Hingga kini, Dolit mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah atau perbankan.
Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 30 Maret 2010
DARI PRALINE HINGGA LOLIPOP ALA YUSAK YANI
Cokelat telah dikenal sejak masa Indian Maya. Biji kakao sangat berharga sehingga dijadikan alat tukar seperti halnya uang. Pada masa Indian suku Aztec, minuman cokelat panas diminum dengan gelas-gelas yang terbuat dari emas. Indonesia kini menjadi penghasil kakao ketiga terbesar di dunia. Meski demikian, hasil olahan cokelat lebih dikenal berasal dari Swiss.
Berangkat dari keprihatinan inilah, Yusak Yani (45) mulai berkreasi membuat produk cokelat dengan sentuhan dekorasi seperti yang dilakukan dalam pembuatan kue pengantin. Jadilah, produk permen cokelat aneka bentuk dan warna, praline (kepingan cokelat), dan lainnya.
Ayah dua anak ini pernah mencicipi kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Karena kesulitan biaya, kuliahnya terputus. Ia pun banting setir dengan bekerja di perusahaan bakery dengan keahlian membuat pastry, lalu dipercaya membuat kue pengantin dan ulang tahun. Yusak sempat berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan bakery lainnya di Kota Semarang dan Kota Solo.
Keterampilannya menghias kue diperoleh, kemudian diaplikasikan ke cokelat. Pada suatu saat, dia terpikir membuat cokelat yang dihias seperti halnya menghias kue pengantin. Saat itu, di Solo belum ada produk olahan makanan seperti yang digagas Yusak.
"Saat itu bertepatan dengan krisis ekonomi tahun 1998. Anak kedua saya lahir, gaji saya saat itu meski tergolong tinggi, Rp 3 juta per bulan, namun mulai terasa tidak cukup karena krisis," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Awalnya, ia membuat ampyang cokelat yang dititipkan di toko oleh-oleh. Kreasinya kemudian ia lengkapi dengan permen cokelat. Agar tidak membosankan, permennya dihias aneka warna, dan mengambil bentuk-bentuk tokoh kartun.
Produk cokelat yang diberi merek Floren dab Temy yang dititipkan di toko roti, supermarket, dan swalayan, digemari konsumen. Saat valentine misalnya, produk permen atau praline cokelatnya berbentuk hati atau kata-kata puitis, habis diserbu pembeli.
Karyanya kini banyak ditiru pihak lain. Agar tetap bertahan, Yusak terus berkreasi. Terakhir, ia memunculkan cokelat dengan warna yang bergradasi. Banyak teknik seni rupa yang ia terapkan dalam menghias cokelatnya. Kini, dalam sehari dia bisa menghabiskan 40-60 kilogram cokelat.
"Dulu awalnya, banyak orang sinis kepada saya, kok membuat cokelat seperti ini. Setelah produk saya terbukti digemari, banyak yang ikut membuat," ujarnya.
Ke depan, Yusak berobsesi memiliki semacam sekolah yang mengajarkan teknik membuat aneka produk dari cokelat. Ia bermimpi, Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar ketiga dunia, juga dikenal sebagai penghasil produk cokelat seperti Swiss.
Tulisanku seperti termuat di 1 Juni 2010
Labels:
cokelat,
coklat,
floren,
Jawa Tengah,
lolipop,
praline,
solo,
surakarta,
temy,
valentine,
yusak yani
Wayang Orang Sriwedari, Nasibmu Kini
Harsini (38) membersihkan goresan pensil alis yang membentuk taring di bawah sudut kiri dan kanan bibir bawahnya. Dengan handuk kecil yang diberi cairan pembersih wajah, Harsini membersihkan seluruh wajah-nya.
Maka hilanglah riasan untuk mempertegas karakter Mbok Emban Kidan Ganti yang baru saja dimainkannya di atas panggung, Rabu (13/10) malam, di Gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo.
Begitulah aktivitas para pemain wayang orang. Setelah tampil gemerlap di atas panggung di balik kostum yang menawan, kembali menjalani realita kehidupan setelah turun panggung.
"Kalau saya, pagi jadi ibu rumah tangga, malam main wayang orang," tutur Iyeng, pemain wayang orang lainnya.
Di tengah kehidupan seni tradisi yang semakin surut seiring perkembangan zaman, pemain wayang orang ini tetap bertahan.
Setiap malam mereka tetap tampil di atas panggung, memainkan lakon untuk menghibur penonton yang jumlahnya kadang bisa dihitung dengan jari. Itu pun kebanyakan penontonnya sudah berusia lanjut.
Harsini menuturkan mulai bermain wayang orang sejak usia 16 tahun, saat dirinya belum lulus sekolah menengah atas. Keterlibatannya dengan wayang orang dipengaruhi keluarga. Ayahnya, Suwardi, seorang pengrawit, dan ibunya, Sartinah, pemain wayang orang yang kemudian menjadi penata rias panggung. Sementara kakeknya, Mbah Sujud, pemain sekaligus sutradara wayang orang juga di Sriwedari. "Yang saya sukai dari bermain wayang orang adalah bisa memainkan berbagai karakter," kata Harsini.
Kini dengan bobot tubuhnya yang mencapai 80 kilogram, Harsini mengaku lebih sering kebagian peran sebagai Mbok Emban. "Saat masih langsing, 49 kilogram, saya bisa bermain bermacam-macam peran," kata Harsini.
Begitu juga dengan Iyeng. Awalnya ia hanya tahu wayang orang melalui tugas sekolah dan kuliahnya di Sekolah Menengah Kariwitan Indonesia Solo (sekarang SMKN 8 Solo) dan Institut Seni Indonesia Surakarta karena ia mengambil jurusan tari. Setelah melamar dan ditempatkan sebagai pemain wayang orang, Iyeng mulai membiasakan diri.
"Dahulu main wayang orang hanya kalau ada tugas sekolah. Itu pun baca naskah. Tiba-tiba harus main wayang orang tiap hari, harus dandan sendiri. Awalnya demam panggung, tapi sekarang sudah biasa. Dandan juga 10 menit rampung," papar Iyeng.
Beruntung Harsini dan Iyeng telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga bisa berkonsentrasi bermain wayang orang dan tidak perlu memikirkan pemasukan dari penjualan tiket.
Tak hanya Harsini dan Iyeng, saat ini hampir semua kru WO Sriwedari yang jumlahnya sekitar 85 orang berstatus PNS. Menurut pimpinan WO Sriwedari, Diwasa, yang belum PNS tinggal 11-13 orang karena kendala batas usia diangkat PNS.
Meskipun demikian, menurut Harsini, orang-orang ini tetap bertahan bermain di WO Sriwedari, walaupun gaji diperoleh jauh berbeda dengan kru lainnya yang berstatus kepegawaian.
Seluruh kru bahu-membahu menghidupi dan hidup bersama pasang surut WO Sriwedari, mempertahankan wayang orang.
Menurut Diwasa, wayang orang atau wayang wong mulai muncul di Solo tahun 1898 dan berkembang di Prang Wedanan, Pura Mangkunegaran. Saat Paku Buwono X menggelar hajatan, pentas wayang orang dipersembahkan Pura Mangkunegaran.
Sejak tahun 1910, pentas wayang orang oleh Paku Buwono X ditempatkan di Kebon Rojo yang kini dikenal sebagai seni yang diperuntukkan bagi rakyat. Tempat ini kemudian dikenal dengan WO Sriwedari, yang tahun ini memasuki usia satu abad.
Tulisanku seperti termuat di Kompas 16 Oktober 2010
Saturday, 25 October 2014
SENSASI RASA ES DAWET TELASIH PASAR GEDE
Seorang perempuan muda, mengenakan kaus tank-top ungu, mendekati meja yang di atasnya terdapat bebe- rapa panci dan baskom. Ia memesan empat bungkus es dawet kepada sang penjual. "Tak usah pakai es, Bu. Mau saya masukkan ke kulkas. Mau saya bawa ke Yogyakarta," katanya, beberapa saat lalu.
Seorang teman juga bercerita pernah membawa 10 bungkus dawet ini sebagai oleh-oleh bagi teman-teman yang ditemuinya di Bentara Budaya Jakarta.
Begitu terkenalnya es dawet ini sehingga tak heran orang membawa sebagai oleh-oleh hingga ke luar kota. Orang menyebut es dawet telasih, karena tidak hanya berisi dawet (cendol), tetapi juga diberi telasih atau selasih yang rasanya kenyes-kenyes dingin saat digigit.
Penjual es dawet telasih berada di salah satu sudut Pasar Gede, Solo. Sejarah es dawet telasih dimulai puluhan tahun lalu hingga kini mencapai generasi keempat, yang pengelolaannya kini dipegang Tulus Subekti atau Utik, yang mewarisi usaha ini ibunya, Dermi.
"Yang memulai mbahnya ibu saya. Sekarang yang berjualan saya dibantu dua orang, karena ibu tidak kuat. Beliau hanya membuat di rumah dibantu tiga orang dan kakak saya," jelas Utik, sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Es dawet telasih tidak hanya berisi dawet, tetapi juga dilengkapi jenang atau bubur sumsum, ketan hitam, tape ketan, dan irisan nangka. Sajian bahan tadi diguyur air gula putih dan santan. Rasanya khas karena diberi selasih dan manis hingga ke sendokan terakhir. Agar lebih segar, sajian es dawet telasih diberi es batu.
Cendol pada es dawet telasih dibuat dari tepung beras yang diberi pewarna alami dari daun suji, sehingga berwarna hijau muda. Bentuknya sengaja tidak sebesar yang lainnya sehingga mampu menyerap manis air gula. Jenang sumsum yang gurih dan ketan hitam yang manis semakin melengkapi variasi rasa dawet telasih.
Es dawet telasih sejak awal dijual di salah satu sudut Pasar Gede, dan tidak pernah pindah. Pengunjung bisa menikmati dawet itu di situ sambil duduk di bangku panjang yang disediakan. Pembeli juga bisa memesan variasi kesukaannya, seperti tak pakai tape atau santan, agar lebih awet jika dibawa perjalanan jauh. Utik bercerita, pembelinya sering membawa es dawet telasih ke luar kota.
"Kami juga sering diminta pesanan dari luar kota untuk berbagai acara, seperti hajatan, pernikahan, dan lainnya. Kalau tempatnya jauh, kami membuat dawet di sana. Kalau dekat, kami membawanya dari Solo," tuturnya.
Untuk mempertahankan cita rasa es dawet telasih, Utik menggunakan bahan tradisional tanpa pengawet. Hasilnya, kini dalam sehari dia mampu menjual hingga 400 mangkok dawet dengan harga per porsi Rp 2.500. Saat Lebaran, sehari ia bisa menjual 1.000 mangkok.
Subscribe to:
Posts (Atom)