Wednesday, 19 November 2014

SARJANA SIPIL PEMBUAT KUE

Bercita-cita sejak kecil menjadi arsitek, saat duduk di bangku kuliah Viria Shanti (37) yang akrab dipanggil Nunuk justru masuk jurusan Teknik Sipil di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Setelah lulus, Nunuk kembali ke kampung halamannya di Solo dan "kecemplung" di usaha pembuatan kue kering. Pekerjaannya ini ia sebut "konstruksi roti". Tentu saja anak kedua dari tiga bersaudara ini tak pernah menyangka jalan hidupnya berubah 180 derajat dari yang dicita- citakannya. Nunuk tak pernah menyesal. Justru sambil berkelakar ia bilang, kalau tahu akan menjadi "pembuat" kue, tak akan membayar mahal dan sekolah susah-susah di Teknik Sipil.
Perkenalannya dengan dunia kue kering berawal saat Nunuk duduk di bangku SMA. Saat itu ia membantu sang ibu, Widyastuti, menggeluti usaha sambilan pembuatan kue kering guna membantu ayahnya, Eko Priyono, yang pengusaha mebel. Dari sekadar membantu, lama-lama Nunuk mahir membuat berbagi kue kering. Sayang, saat kuliah ia tidak bisa rutin lagi membantu sang ibu. Lepas kuliah, Nunuk yang baru saja menikah tepat setahun sebelum kelulusannya, tiba-tiba menerima lagi pesanan kue. Nunuk yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dengan senang hati menerima tawaran itu.
"Saya orangnya paling tidak betah menganggur. Mau bekerja sesuai bidang kuliah agak sulit di kota kecil. Kebetulan suami juga lebih suka saya mengurus anak, jadi saya terima tawaran membuat kue kering," ungkap ibu dari dua anak ini ceria saat ditemui di rumahnya di Solo Baru yang sekaligus digunakan sebagai "pabrik", Senin (16/10).
Kebetulan usaha kue kering sang ibu terhenti di tahun 1994. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Nunuk melanjutkan dan mengembangkan usaha itu. Tak hanya membuat kue kering, ia juga menerima pesanan kue tart, bakery, dan coklat. Pengetahuan dan keterampilan barunya diperoleh dengan mengikuti berbagai kursus singkat di berbagai hotel di Jakarta, Surabaya, dan Solo. Meski jago membuat kue kering, ia mengaku tidak senang masak. "Saya lebih suka membuat kue kering, kue setengah basah seperti lumpia, tidak suka," ungkapnya sambil tersenyum.
Sekitar 10 tahun kemudian atau Juni 2006, Nunuk memutuskan melebarkan pasar dengan membuka counter kuenya di Solo Grand Mall. Sebulan lalu, ia juga membuka counter serupa di Plaza Ambarukmo, Yogyakarta. Kalau dulu ia memakai merek Cimi, kini ia berganti dengan label yang lebih genit, CoKiss yang artinya coklat dan cookies. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 17 Oktober 2006

GUNAWAN SETIAWAN NGURI-URI ILMU BATIK

Kampung Kauman yang terletak tidak jauh dari Keraton Surakarta Hadiningrat sejak lama terkenal sebagai penghasil batik yang menelurkan banyak pengusaha sukses. Hingga kini, meski telah jauh berkurang jumlahnya, masih ada orang-orang yang meneruskan usaha batik. Salah satunya adalah Gunawan Setiawan.
Sebagai generasi ketiga, Gunawan Setiawan (35) bersama dua kakaknya, Muhyidin (45) dan Uswatun Hasanah (43), meneruskan usaha batik sepeninggal kedua orangtua mereka, Muhammad dan Siti Badriyah, pada tahun 1981. "Orangtua dulu juga mewarisi usaha dari orangtuanya," jelas Gunawan saat ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi ruang pamer dan tempat bekerja.
Awalnya, usaha batik keluarga ini menggunakan merek AS sebelum berganti menjadi Putra Mas dan sejak tahun 1972 oleh Muhammad diganti lagi menjadi Gunawan Setiawan, seperti nama anak bungsunya. Meski anak bungsu, Gunawan juga harus menjalani kerja keras yang ditanamkan keluarga sejak kecil. Mengumpulkan ceceran malam untuk digunakan kembali dan berjualan batik semasa sekolah adalah pekerjaan rutinnya.
Meskipun mengenyam pendidikan sarjana manajemen, namun arahan sejak awal untuk menjadi wiraswastawan, membuat Gunawan mantap memilih batik sebagai jalan hidupnya.
Kejujuran yang ditanamkan leluhurnya menjadi pegangan nomor satu dalam berusaha. "Kalau ada kain bolong, ya kita ungkapkan pada pembeli, meski itu akan mengurangi harga," jelas Gunawan.
Inovasi dan kreativitas dalam segala hal lantas menjadi kiat memenangkan persaingan usaha, mulai dari desain, proses pewarnaan, hingga pemasaran. Kebiasaan sang ayah yang rajin mencatat setiap hasil percobaannya dalam mencari formula warna batik, lalu ditirunya baik-baik. "Bapak sering mencatatnya di tembok, di tiang, dan di sembarang tempat yang terjangkau. Lalu disalin oleh ibu. Itu warisan buat kami yang nilainya tak terhingga," kata ayah empat anak ini.
Di saat perusahaan batik lain menutup rapat-rapat pintu mereka agar formula dan proses pewarnaannya tidak mudah ditiru, Gunawan justru sebaliknya. Ia justru membuka kesempatan lebar-lebar bagi mereka yang ingin belajar batik di tempatnya. "Saya mendapatkan ilmu batik secara "gratis" dari Bapak saya. Kenapa tidak saya tularkan kepada masyarakat. Saya khawatir jika ilmu ini hanya disimpan, batik lama-lama akan punah," ungkapnya.
Dampak positif yang tidak disangkanya, usaha menularkan ilmu ini justru menjadi investasi jangka panjang untuk menanamkan citra usahanya di benak masyarakat. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 2 Januari 2007

CERITA DI BALIK SANGKAR BURUNG


Lebih dari 13 tahun lalu, Bambang Sulistyo (47) menjalani hari demi hari dengan berkeliling menjalankan profesinya sebagai tenaga penjualan. Menjual produk batik atau teh pernah dilakoninya. Namun, sekarang semua itu tinggal cerita. Kini Bambang termasuk salah satu wiraswastawan mandiri yang berhasil mengentaskan diri berkat sangkar burung.
Berawal dari kebiasaannya sepulang kerja melihat proses pembuatan sangkar burung di rumah seorang teman, lama-lama ia tertarik untuk membuat sendiri sangkar burung. Seusai pulang kerja atau saat libur, ia membuat sangkar burung. Uniknya, ayah tiga anak ini bukan pehobi memelihara burung.
Setelah terkumpul banyak, ia menjual sangkar-sangkar burung ciptaannya di Pasar Burung, Depok, Solo. "Ternyata laku. Sejak itu, saya berpikir mengapa tidak menekuni saja usaha ini," ungkap Bambang, Kamis (1/2).
Berbekal izin dari istrinya, Rubiyah, Bambang mulai merintis usahanya. Ia pun mengajak sanak saudara dan tetangganya untuk berusaha serupa. "Saya ajak saudara saya yang tukang batu, penjual wedang. Awalnya mereka tidak percaya, setelah laku, mereka baru yakin untuk meninggalkan pekerjaan lama," kata Bambang yang rutin menggelar pertemuan tiga bulanan dengan para perajinnya.
Bambang akhirnya secara penuh berwiraswasta membuat sangkar burung. Keuntungan yang terkumpul sedikit demi sedikit dibelikan alat kerja. Pesanan pun berlimpah. Dalam sebulan ia bisa mendapat pesanan sangkar burung hingga 7.000 buah. Namun ia hanya mampu melayani 3.000 buah yang dikerjakannya bersama 200 perajin. Lingkungan rumahnya di Kampung Debegan, Mojosongo, Jebres, Solo, dan sekitarnya kini dikenal sebagai sentra sangkar burung. Bambang termasuk pionernya.
Pesanan kini datang dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Jatuh bangun menjadi bagian dari berusaha. Ujian paling berat adalah isu flu burung yang beberapa tahun terakhir melanda. Pesanannya merosot hingga 70 persen. Perajin mitranya pun kini hanya 56 orang.
Namun, ia tetap bertahan dan konsisten membuat sangkar burung. Beruntung sejak tahun 1997 ia juga mengembangkan produk sangkar burung jenis khusus, yaitu sangkar burung eksklusif atas dasar pesanan. Sesuai pesanan, sangkar burung ini dilengkapi ukir-ukiran, mulai dari cerita wayang hingga dewa-dewa Tiongkok. Usaha ini relatif stabil dan tahan goncangan isu flu burung. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 6 Februari 2007

ZHAKIAH BERANI MALU UNTUK MAJU

Usianya masih terbilang muda. Namun, keberaniannya dalam hal berbisnis barangkali bisa dibilang melampaui usianya. Zhakiah (25) sejak usia belia sudah bercita-cita menjadi pengusaha. Menjadi pegawai tidak pernah ada dalam bayangannya.
"Saya ditawari kerja di banyak tempat, tapi tidak mau. Selain waktunya terikat, gajinya paling besar, misalnya jadi manajer, di daerah hanya Rp 5 juta per bulan. Sekarang ini, jumlah itu alhamdulillah bisa saya dapat per hari," ungkap perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, Semarang ini, Sabtu (3/11).
Ilmu akuntansi sengaja dipilihnya saat kuliah untuk mendukung cita-citanya berbisnis. Saat ini, ia mengekspor kain tetoron ke Oman untuk bahan seragam tentara Oman. Ekspor ini terikat kontrak tiga tahun dan sudah masuk tahun kedua.
"Kontrak ini saya peroleh saat pameran dagang di Dubai. Saya menjadi salah satu wakil Jawa Tengah," jelas Zhakiah yang tengah hamil anak kedua.
Selain itu, ia juga menggeluti ekspor-impor ke Arab Saudi. Makanan, kosmetik, dan obat-obatan khas Arab ia impor ke Indonesia dan dijual di tokonya di Semarang. Toko serupa ada di Kota Solo, milik ayahnya, Ali Abdurrahman. Semasa kuliah, ia mondar-mandir Semarang-Solo untuk membantu mengelola toko ayahnya yang pada tahun 1999 pindah ke Kota Solo. "Saya juga impor jinten dari Arab empat ton per bulan," kata Zhakiah yang juga mengekspor sarung tenun ke Arab Saudi.
Kemampuannya berdagang terasah sejak kecil. Sulung dari 10 bersaudara ini saat masih SMP sudah membantu ayahnya berjualan di Simpanglima Semarang. Pada masa pemilu, ia membantu berjualan atribut partai politik.
"Waktu SD, teman saya ingin pulpen bagus. Saya menawarkan membelikan. Dari situ saya mengambil sedikit selisih. Saya harus usaha dulu untuk punya uang jajan lebih. Maklum, punya banyak adik. Rasa takut dan malu sudah hilang dengan pengalaman membantu bapak berdagang. Itu berguna kalau kita mau usaha dari nol," ujarnya.
Ayahnya yang ia panggil abah adalah sumber inspirasinya dalam berwirausaha. "Abah yang mendorong saya untuk tidak takut dalam berbisnis. Kalau saya ada masalah, ragu-ragu untuk memulai, saya pasti konsultasi dengan beliau," kisah Zhakiah yang pernah mengajar bahasa Arab selama kuliah.
Sejalan dengan suaminya, Hamzah Musawa, yang menggeluti bisnis percetakan, Zhakiah ingin membuka dua toko buku yang khusus menjual buku-buku impor berharga murah. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa  Tengah) 27 November 2007

SITI FATIMAH, KECIL-KECIL LAMA-LAMA JADI BESAR


Siti Fatimah (34) tak pernah bercita-cita menjadi pengusaha mebel. Kuliahnya saja di Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Surabaya. Lulus kuliah, ia sempat bekerja di konsultan teknik.
Hanya bertahan setahun, ia lalu mengajar di STM, di empat sekolah sekaligus. Siti bekerja dari Senin hingga Minggu mulai pukul 07.00- 17.00. Bekerja keras menjadi bagian hidupnya.
Selama kuliah, ia juga menyambi berdagang. "Otak dagang"-nya selalu jalan bila melihat kesempatan berjualan datang. "Saya jual batik, mukena, dan buku-buku agama ke teman-teman," katanya beberapa waktu lalu.
Kebiasaannya berdagang tak surut meski sudah bekerja. "Sejak kerja di konsultan, saya mulai bisnis jual mebel. Mebelnya saya ambil dari tempat bapak, lalu saya tawarkan ke teman-teman," katanya.
Siti, anak kedua dari sembilan bersaudara ini lahir di tengah keluarga pengusaha mebel. Seluruh saudaranya kini pengusaha mebel. Ayahnya, Mukhlas, adalah pedagang generasi pertama di Pasar Mebel Surakarta sekitar tahun 1970-an. Usahanya kemudian diteruskan sang ibu. "Ayah dulu sering ikut kakek jualan mebel keliling, hanya dengan dipikul dari Kalijambe hingga Solo," ungkapnya.
Semakin hari pesanan mebelnya semakin banyak hingga akhirnya ia memutuskan terjun total ke bisnis mebel. "Karena ketika mengajar di sekolah waktu saya terikat dan tersita, saya putuskan untuk bisnis mebel saja," jelas Siti.
Ia tidak lagi mengambil mebel dari toko ayahnya, melainkan memproduksi sendiri. Siti tak hanya pasrah dengan hasil kerja para pekerjanya, melainkan juga turut memikirkan soal desain. "Ini untuk menarik pembeli. Biar mereka melihat barang kami berbeda dari toko lainnya," katanya.
Siti pun berani pasang harga lebih murah dibanding toko-toko mebel lain. "Itu makanya, toko saya termasuk yang paling ramai di sini," kata Siti yang memiliki tiga bengkel kerja dan ruang pamer di Pasar Mebel, Solo, dan sebuah bengkel kerja di Telukan, Sukoharjo.
Salah satu kunci yang membuat pelanggannya betah adalah pelayanan yang optimal. "Saya layani terus apa kemauan pelanggan. Mereka mengeluh soal A, kita coba perbaiki soal A dan selanjutnya sehingga pelanggan tidak kapok kembali ke tempat kita," ungkap ibu Fadhal Fathurohman (9) dan Afrizal Yafi' Rohman (6) ini.
Didikan orangtua yang keras soal kemandirian dan sifat hemat telah membentuk sifat yang dibutuhkan seorang wirausaha. Memulai usaha sendiri, menurutnya, tidak perlu modal besar.
"Yang penting jangan malu sepanjang usaha kita halal. Kita bisa mulai dari kecil, tidak perlu langsung modal besar," jelas istri Taufik Rohman ini. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 4 Desember 2007

DARYANTI, BUKAN SEMBARANG JURAGAN

Daryanti (44) hampir menyerah saat usahanya tak kunjung memberi untung, bahkan ia terus merugi. Namun, salah satu juragan bawang merah di Pasar Legi, Solo, ini memutuskan bertahan. Tak disangka, ini justru menjadi titik balik usahanya.
Dari semula hanya berjualan satu karung bawang merah, kini ia bisa kulakan hingga 40 karung per hari. Bawang merah yang dijualnya dikirim dari Brebes. Tak hanya itu, setiap hari ia juga mengirim masing-masing 1.500 kilogram bawang merah dan bawang putih kupas ke seorang pengusaha di Surabaya untuk diekspor ke Amerika Serikat. Ia juga membuat bawang goreng, setiap hari ia membutuhkan sekitar 200 kg bawang merah.
Hingga kini sudah 20 tahun perempuan kelahiran Wonogiri ini berjualan bawang merah. Meski hanya lulusan SMP, Daryanti bisa membuktikan mampu memberdayakan diri bahkan bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Pendidikannya yang rendah bisa ditutupinya dengan keinginan dan kegigihannya untuk mandiri.
Dari hasilnya berjualan bawang, ia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Ia juga membelikan kedua anaknya yang telah berumah tangga, masing-masing sebuah rumah.
Kunci keberhasilannya adalah tidak cepat menyerah dan mau terus belajar. Perempuan yang sejak kecil membantu mendiang ibunya, Ny Jumadi, berjualan bawang merah ini memang bercita-cita mempunyai usaha sendiri.
"Awalnya saya buat 5 kg bawang goreng, tidak berhasil, lalu saya buang. Tapi kemudian saya tanya-tanya pada bakul-bakul langganan saya. Katanya saya harus beli kompor besar supaya hasilnya bagus. Kalau dulu saya kupas, iris, dan goreng sendiri, sekarang saya punya dua mesin kupas yang harganya satu buah Rp 5 juta," papar nenek tiga cucu ini, pekan lalu.
Dari awal hanya bekerja sendiri berjualan bawang merah, kini Daryanti membawahi 200 orang tenaga lepas pengupas bawang, 30 pemetik bawang, 3 orang tukang menggoreng bawang, dan 10 tenaga angkut. Sebagian besar mereka adalah tetangga di Kampung Tapen, Nusukan, Banjarsari, Solo.
Meski sudah jadi juragan, Daryanti tetap ikut melayani pembeli di kiosnya, di sebelah barat setelah pintu masuk Pasar Legi. Suaminya, Seti, mengawasi pekerjaan pengupas bawang di rumah. Anak sulungnya, Sarah (28), mengurusi administrasi usaha jual beli bawang dan bawang kupas. Anak bungsunya, Bayu (26), membuka toko kelontong tidak jauh dari kios bawang merah miliknya. 

Tulisanku  seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 18 Desember 2007

IMELDA SUNDORO, RATU OTOMOTIF DAN PROPERTI


Nama Sun Motor, diler berbagai merek mobil dan motor yang membentang di 97 cabang di kota-kota dari Sabang sampai Merauke. Pemiliknya adalah perempuan tangguh kelahiran Solo, Imelda Tio Sundoro. PT Sun Motor Group yang dirintis Imelda sejak tahun 1972, kini menjadi semacam supermarket mobil dan motor yang menaungi lebih dari 10 merek. Tidak heran jika kemudian ia dijuluki "ratu otomotif".
Agaknya gelar itu akan bertambah dengan "ratu properti" karena sepak terjangnya di dunia properti. Melalui bendera PT Sunindo Primaland, Imelda membangun Hotel Novotel dan Hotel Ibis di Solo, Hotel Grand Mercure di Yogyakarta, Hotel Novotel di Semarang, dan perumahan mewah Sun Residence di Colomadu, Karanganyar.
Ia pun dengan gagah memulai proyek apartemen Solo Paragon dengan konsep mix used, yakni memadukan konsep apartemen, hotel, mal, dan city walk. Apartemen adalah hal baru di dunia properti di Solo.
"Tahun ini, saya akan membangun hotel bintang lima, Best Western, di bekas gedung BHS Bank di Solo yang mangkrak," ungkap Imelda pekan lalu. Bisnis ibu beranak empat itu juga menggurita ke bidang keuangan, manufaktur, furnitur, multimedia, dan hiburan.
Imaginasi. Itu yang membuat Imelda begitu agresif di dunia usaha. Ditambah kejelian dalam mengambil peluang dan ketangguhan dalam menghadapi kerasnya persaingan usaha.
Ketangguhan dan kejelian Imelda tidak dibangun dalam semalam. Sejak usia sembilan tahun, ia membantu usaha kelontong sang ayah. Setelah menikah dengan Sundoro Hosea, keduanya merintis bisnis konveksi. Imelda membuat sendiri pola, memotong kain, dan menjahitnya. Pakaian yang jadi lalu dijual grosiran ke pasar.
Imelda terjun ke dunia otomotif tanpa sengaja. Seorang teman tertarik membeli mobilnya dan ia meraih untung. Setelah ruang pamer di garasi, tahun 1974, Imelda mendirikan Sun Motor.
Ia dipercaya menjadi subdiler Suzuki untuk wilayah Solo 13 tahun kemudian. Setelah itu, merek-merek otomotif ternama pun menggandengnya sebagai subdiler. 

Tulisanku seperti termuat di Kompas (Jawa Tengah) 26 Februari 2008